28 Maret 2013

Bersenang-senang di Pulau Penang


Pada zaman kolonial, Inggris berkedudukan di tiga titik penting, yaitu Singapura, Melaka, dan Penang. Kini ketiganya telah bertransformasi menjadi destinasi wisata populer di kalangan para pelancong. Kali ini saat selesai mengunjungi Hat Yai di Thailand, kami menyempatkan diri untuk mampir di The Pearl of the Orient ini guna menelusuri jejak peninggalan kolonial Inggris sekaligus budaya turun-temurun masyarakat setempat yang didominasi oleh etnis Tionghoa.
 
Selama berada di Penang, kami tinggal di tempat host Couchsurfing yang berada di Jalan Ayer Itam, sebuah jalan raya yang menghubungkan pusat kota menuju dua tempat atraksi wisata terkenal di pulau itu; Penang Hill dan Kek Lok Si Temple. Setelah berkenalan dengan host di hari sebelumnya dan menginap semalam, kami memulai eksplorasi di pagi hari dengan berjalan kaki menyusuri jalan itu sampai agak jauh. 
 
Di tengah jalan, tampak patung Dewi Kuan Im yang  menjulang tinggi di atas bukit. Kami tahu itu adalah bagian dari Kek Lok Si Temple, tapi karena kelihatan masih cukup jauh jadi kami memutuskan ke tempat yang satunya terlebih dahulu. Setelah sekitar 2 km berjalan, akhirnya sampailah kami di stasiun bawah kereta funikular. Inilah cara untuk naik ke Penang Hill alias Bukit Bendera jika tidak mau hiking. Kereta kabel ini merupakan peninggalan kolonial Inggris yang dibangun pada tahun 1924 untuk keperluan rekreasi alam orang-orang Inggris zaman itu. Meskipun gerbong kereta yang digunakan kini sudah diperbaharui namun interiornya tetap dibuat dengan kesan klasik. Kereta ini membutuhkan waktu sekitar 30 menit untuk memanjat trek yang cukup terjal dari stasiun bawah ke stasiun atas. Kami harus membayar harga tiket 30 ringgit per orang untuk perjalanan naik turun, padahal warga Malaysia cukup membayar 8 ringgit saja. Sempat terpikir oleh kami untuk berpura-pura menyamar menjadi orang Malaysia tapi itu tidak akan berhasil karena petugas di loket meminta tanda pengenal terlebih dahulu. Sampai di Bukit Bendera, kami dapat menikmati udara segar sambil melihat pemandangan sekeliling pulau menggunakan teleskop berbayar. Tersedia pula mobil buggy yang siap membawa pengunjung bukit berkeliling dengan harga RM 60 untuk 45 menit dan RM 30 untuk 25 menit. Selain itu, ada juga museum dan bangunan-bangunan bersejarah. Jika mengeksplor bukit ini lebih jauh, pelancong juga bisa menemukan flora dan fauna yang unik. Pokoknya, banyak hal deh yang dapat dilakukan di sini untuk bersantai jauh dari hiruk pikuknya kota. Tapi secara pribadi kami tidak terlalu menyarankan tempat ini untuk pelancong bujet karena harga tiket kereta, atraksi serta makanan-minuman di atas sana cukup mahal.
Kereta funikular versi terbaru
Di dalam gerbon kereta
Jalan-jalan di Penang Hill yang berudara segar
Ayunan yang bisa digunakan berdua sekaligus
 
Dari Bukit Bendera, kami naik bus Rapid Penang menuju Kek Lok Si Temple. Dari turun bus, kami masih harus berjalan sedikit lalu menanjak lewat banyak anak tangga dimana ada banyak toko oleh-oleh di kanan kirinya. Kuil ini diklaim sebagai kuil Buddha terbesar di Asia Tenggara. Sepertinya sih memang benar. Karena untuk berkeliling kompleks kuil cukup menguras tenaga. Kami seharusnya jalan lebih pelan sambil menikmati pemandangan sekitar. Saking terkenalnya, kuil ini telah menjadi sangat komersial. Tidak hanya di sepanjang jalan menuju kuil tapi juga di dalam bangunan kuilnya sendiri banyak orang berjualan. Saat kembali dari kuil, suasana di sekitar tangga menjadi lebih ramai karena lapak-lapak yang tadi masih tutup sekarang sudah buka. Barang-barang yang dijual cukup beragam, mulai dari payung, kipas, kaligrafi khas Tiongkok, oleh-oleh Malaysia atau Penang secara umum, sampai kerajinan kayu berbentuk kelamin pria serta berbentuk kotoran manusia! Untuk naik ke atas pagoda tersedia lift berbayar. Tapi kami tidak naik karena sudah merasa sangat lapar. Sepertinya energi kami terkuras banyak setelah dari tadi berjalan jauh. Tapi setelah itu kami menyesal kenapa tadi tidak jadi naik setelah sudah jauh-jauh sampai di sana.
 
Pagoda ikonik dari Kek Lok Si Temple
 
Kek Lok Si Temple


Toko oleh-oleh di dalam bangunan kuil
Biksu dijual. Kelihatan seperti asli bukan?

Gerbang bulat khas Tiongkok

Setelah makan siang, kami melanjutkan perjalanan dengan naik bus umum lagi ke kota Georgetown yang telah dinyatakan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO. Bus berhenti di KOMTAR, salah satu terminal bus utama di ibukota Penang ini. Untuk transportasi di dalam kota tua, kami tidak perlu mengeluarkan uang sepeser pun karena tersedia layanan bus gratis bernama CAT (Central Area Transit). Kami pun naik bus ini ke Penang State Museum. Tiket masuk museum hanya RM 1. Di sini kami bisa belajar sejarah menarik tentang Penang. Kalaupun tidak tertarik sejarah, berkunjung ke museum juga disarankan untuk menghindari panasnya matahari ketika traveling. 
 
Setelah sudah merasa cooling down, kami keluar museum, berjalan sedikit lalu naik bus CAT lagi. Bus sempat terjebak macet karena banyaknya kendaraan roda empat pribadi di gang-gangnya yang sempit. Kini kami turun di dekat Lebuh Armenian/Armenian Street  dimana kami menyaksikan banyak lukisan dinding yang amat kreatif. Kami terus berjalan hingga sampai di Clan Jetties, sebuah kampung nelayan Tionghoa unik yang sudah eksis sejak abad ke-19. Beberapa penduduk di sini menjual oleh-oleh dan beberapa lainnya menyediakan homestay untuk para turis.
 
'Wau', layang-layang khas Malaysia, menjadi salah satu benda koleksi Penang State Museum

Becak yang dapat disewa untuk berkeliling kota tua Georgetown
Jalanan di Georgetown sangat bersih dan terlihat elok.

Gang utama di Clan Jetties yang dipenuhi dengan penjual oleh-oleh.
Rumah-rumah di Clan Jetties secara harafiah dibangun di atas air.

Kini kami sudah benar-benar kehabisan tenaga. Masih banyak sudut lain dari kota tua Georgetown yang mau kami jelajahi, tapi apa daya badan sudah tidak sanggup. Maka kami putuskan untuk mengakhiri ekplorasi hari ini, toh masih ada hari esok. Kami pun kembali ke apartemen host kami yang ada di Jalan Ayer Itam. Setelah mandi dan beristirahat sejenak, kami diajak makan di foodcourt dekat apartemen. Di sana kami mencicipi beberapa jenis roti canai yang lezat ditemani dengan minuman yang langsung menjadi favorit kami; teh tarik three layers (teh, susu, dan madu). Baik makanan maupun minumannya, benar-benar enak! Padahal awalnya kami ragu akan doyan ketika dipesankan makanan India. Penang memang pantas dikatakan sebagai surga makanan. Sebelumnya di hari ini kami juga sudah merasakan nikmatnya kuliner di Penang, dari makanan Melayu, Cina, maupun India, semuanya enak dan bisa didapatkan dengan harga murah. Memang bersenang-senang di Pulau Penang mesti makan makanannya yang nendang!

Tipikal Chinese Food di Penang
 
Jetty Lok-Lok, terletak tepat di depan Clan Jetties menjual berbagai satay dengan cara yang kreatif.
Tiap tusuk punya warna berbeda yang menentukan harganya.
Proses pembuatan canai dapat menjadi tontonan yang menarik.
Ayam sebagai lawuk utama dimakan bersama roti canai ditemani oleh teh tarik three layers

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Peta Dunia TRAVELdonk

Peta Dunia TRAVELdonk