24 Maret 2013

Menyusuri ke-Tiongkok-an Malaysia


Setelah tiga bulan berlalu sejak perjalanan pertama kami ke Kuala Lumpur, Malaysia, kami kembali lagi ke sana. Kedatangan kami yang kedua kalinya ini tentu akan berbeda daripada sebelumnya. Bukan hanya karena kali ini kami akan mengunjungi tempat-tempat wisata yang berbeda, tetapi kami juga melakukannya dengan cara yang berbeda. Saat kunjungan kami yang pertama, kami selalu menggunakan transportasi umum. Namun, host kami yang kali ini, Mr. Yap, dengan baik hati mengantarkan kami ke tempat-tempat yang hendak kami kunjungi menggunakan mobil pribadinya.

Mr Yap dan juga Lee sahabatnya yang bersama-sama dengan kami adalah orang Tionghoa-Malaysia, ditambah lagi, ada seorang gadis asal Guangzhou yang juga ikut satu mobil dengan kami. Jadi, sepanjang perjalanan kami banyak mendengarkan percakapan dalam bahasa Cina. Kami pun diajak mengunjungi sebuah kuil Cina di Genting Highlands sehingga lengkaplah nuansa kebudayaan Tionghoa dalam perjalanan kami di Malaysia kali ini. Masalah makan, kami selalu dibawa makan chinese food baik untuk sarapan, makan siang maupun makan malam. Kami pun mempelajari sebuah hal yang menarik, yaitu jika ada orang berciri fisik Melayu kerja di restoran chinese food, orang tersebut kemungkinan datang dari Indonesia atau negara Asia Tenggara lainnya. Di Malaysia, orang Melayu tidak bekerja di restoran-restoran non-halal.

Tipikal tempat makan makanan Cina yang berbentuk kongsi alias patungan

Di depan salah satu rumah di kompleks pemukiman orang Tionghoa
dimana kami menjemput gadis asal Guangzhou itu.


Tempat pertama yang kami datangi malah tidak terkait dengan budaya Cina sama sekali. Tempat itu adalah Istana Negara yang berada di Jalan Istana. Sejak tahun 2011, Yang Di Pertuan Agong pindah ke istana baru di Jalan Duta sehingga istana yang lama ini telah berubah menjadi museum dan dibuka bagi umum.

Sama halnya seperti di Indonesia, kebanyakan tiket masuk tempat wisata di Malaysia bersifat diskriminatif. Di Istana Negara, contohnya, seseorang harus membayar dua kali lipat (RM 5) hanya karena ia bukan orang Malaysia. Tiket masuk untuk warga Malaysia hanyalah RM 2 dan bahkan gratis untuk anak-anak. Kami mengakali aturan tiket masuk ini dengan cara berpura-pura sebagai warga negara Malaysia. Petugas loket mempercayainya karena muka kami kelihatan mirip orang Malaysia. Jadi orang yang bisa berbicara sedikit Bahasa Malaysia, bisa meniru cara ini untuk mendapatkan harga tiket yang lebih murah. Tapi tentunya cara ini tidak akan berhasil jika muka orang itu tidak kelihatan Melayu, Cina, maupun India sama sekali. 

Sebelum masuk ke istana, kami harus melepas alas kaki dan menentengnya menggunakan kantung plastik yang disediakan. Kami tidak diizinkan mengambil gambar di dalam gedung istana dimana kami menyaksikan betapa mewahnya hidup seoarang raja dan keluarganya. Bahkan ada klinik gigi pribadi di dalamnya!

Berfoto dengan penjaga Istana Negara
Kami hanya diperbolehkan mengambil gambar dari luar.
Beranjak dari istana, kami kemudian menuju arah utara. Di tengah jalan sempat turun hujan cukup deras. Tapi anehnya begitu kami melewati sebuah terowongan, hujannya berhenti. Tidak, bahkan hujan belum terjadi di mulut terowongan satunya. Benar-benar kering di sana! Host kami mengatakan hujan lokal seperti ini memang kerap terjadi di KL dan sekitarnya.

Tibalah kami di Bukit Tinggi untuk berhenti sejenak dan menikmati makan siang yang lezat. Bukit Tinggi memiliki udara yang segar dan intensitas hujan yang tinggi. Itulah mengapa sebuah resort mewah dibangun di area ini yang diperuntukkan bagi orang-orang yang tidak suka dengan panasnya Malaysia yang beriklim tropis. Kami tidak sempat melihat resort itu, tapi kami sangat puas dengan makan siangnya yang mungkin adalah yang terenak yang pernah kami cicipi.
Di area Bukit Tinggi terlihat banyak bendera partai politik menjelang
pemilihan umum Malaysia yang akan segera berlangsung
Makan ala-Asia bukanlah per individu
 
Setelah makan siang, kami melanjutkan perjalanan ke Genting Highlands. Genting Highlands adalah tempat pelarian yang sangat populer bagi penduduk KL, seperti layaknya Puncak bagi penduduk Jakarta. Kami tidak memasukkan Genting Highlands dalam daftar tempat-tempat yang akan kami kunjungi karena awalnya kami kira akan sulit aksesnya ke sana. Kenyataannya, jika sekalipun kami harus ke sana sendiri tanpa kendaraan pribadi, kami tidak perlu khawatir karena ternyata akses maupun infrastruktur di tempat ini telah terbangun dengan sangat baik. Genting Highlands dapat ditempuh sekitar satu jam saja dari beberapa titik di pusat kota KL dengan bus ekspres yang pilihan jam keberangkatannya ada banyak. Jalan menuju lokasi pun lebar, dua jalur naik dan dua jalur turun. Pokoknya jauh dari kemacetan parah ala Puncak deh!

Begitu tiba di dataran tinggi itu pengunjung langsung dimanjakan dengan berbagai fasilitas pelengkap seperti kereta gantung, hotel, taman bermain dan............ kasino! Ya, berjudi adalah hal legal di Malaysia jika dilakukan di Genting Highlands dan hanya di sana berjudi merupakan hal yang tidak melanggar hukum. Akan tetapi, orang Melayu dilarang untuk ikut serta dalam praktek judi meskipun itu dilakukan di Genting Highlands. Jadi praktis yang datang ke kasino itu kebanyakan adalah orang Tionghoa-Malaysia dan Cina Daratan.

Di Indonesia ada banyak dataran tinggi yang memilki pemandangan nan indah. Tapi sayangnya pemerintah kita belum terlalu mengembangkan areal dataran tinggi seperti layaknya Genting Highlands di Malaysia yang tentu nantinya akan menghasilkan banyak uang juga bagi pemerintah.

Berhubung kami dibawa naik mobil pribadi oleh host kami, kami tidak mencoba fasilitas-fasilitas di Genting Highlands seperti kereta gantung maupun kasino. Malah kami mengunjungi tempat yang jauh lebih menarik lagi, yaitu Chin Swee Temple. Kuil Buddha bergaya Tiongkok ini memiliki sebuah pagoda serta beberapa patung berukuran besar. Kami sangat gembira mengunjungi tempat ini karena ada banyak sekali spot-spot bagus untuk berfoto. Udaranya pun segar, apalagi ketika kami berada di lantai teratas dari pagodanya yang berlantai sembilan. Sungguh terasa seperti di negeri Cina.
Pagoda besar Chin Swee Temple

Kelihatan seperti di Cina, kan?

Di puncak pagoda. Coba lihat ke belakang!
Saat itu sedang berkabut di Genting Highlands.
Patung Buddha Besar
Patung Dewi Kuan Im
Yonnie, gadis Guangzhou girl sedang melihat sederatan patung diorama 'Tingkatan Neraka'.
Di sini kami dapat melihat penggambaran berbagai jenis hukuman di neraka menurut kepercayan tradisional Tiongkok.
Di kuil ini juga terdapat patung tokoh-tokoh "Kera Sakti" yang sangat familiar buat kami.
 
Selanjutnya, kami tidak hanya mengunjungi tempat-tempat menarik tapi juga orang-orang menarik seperti host kami sebelumnya yaitu Peter dan Jay! Dalam kunjungan kami yang pertama, kami ketinggalan tas di dalam kereta LRT. Jay dengan baik hati mengambil tas kami yang akhirnya ditemukan oleh petugas LRT dan menyimpan tas itu di apartemennya hingga kami kembali pada saat ini.

Sungguh senang mendapatkan tas kami kembali, tapi terlebih karena kami bertemu Peter dan Jay lagi. Kami sangat senang mendapat teman baru sepanjang perjalanan ke luar negeri. Mereka benar-benar membuat perjalanan kami di KL menjadi luar biasa. Sayangnya, kami tidak punya banyak waktu bersama-sama dengan orang-orang ini. Malam harinya, kami sudah harus melanjutkan perjalanan ke Hat Yai, Thailand.
Bersama teman-teman di KL
Menunggu bus ke Hat Yai di Terminal Bus Puduraya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Peta Dunia TRAVELdonk

Peta Dunia TRAVELdonk