24 Desember 2013

KuaTour (Bag.2): Jalan-Jalan Itu Ibadah


Hujan cukup deras mengguyur KL sesaat sebelum kami memulai tur pada hari ini. Namun, fenomena alam ini tidak menunda apa yang telah dijadwalkan. Berbekal payung seadanya, kami semua berhasil menembus hujan hingga tiba di hub transportasi Pasar Seni yang terhubung dengan stasiun lama Kuala Lumpur melalui jalur pejalan kaki beratap. Stasiun lama ini merupakan sebuah atraksi tersendiri. Saat kami baru tiba di sana kereta komuter ke Batu Caves sudah bersedia berlepas. Saat kami hampiri, pintunya tertutup. Kami terlambat naik kereta itu jadi kami harus menunggu kereta selanjutnya. Tak apalah, hitung-hitung kami jadi punya cukup waktu untuk mengamati stasiun peninggalan era kolonial yang terawat dengan baik ini.

Stasiun Kereta Api Kuala Lumpur yang kini selalu sepi
Keempat peserta tur sedang duduk di dalam kereta KTM Komuter.

Batu Caves, satu-satunya tempat wisata di luar kota yang dikunjungi selama KuaTour, terletak sekitar 10 km di utara Kuala Lumpur. Membutuhkan waktu kurang lebih 30 menit naik kereta untuk sampai di sana. Cukup jauh dari pusat kota, udara di sekitar Batu Caves terasa segar, apalagi sehabis hujan. Hawa yang sejuk membuat traveling mood kami menjadi baik. Tempat ini sejatinya adalah tempat beribadah kaum Hindu, khususnya bagi orang India Tamil. Kuil yang ada di situs Batu Caves bukan cuma satu, tapi ada beberapa. Kami sempat berhenti sejenak untuk mengamati orang-orang beribadah di salah satu kuil yang terletak dekat dengan patung Hanoman. Banyak hal yang tidak kami mengerti dari ritual yang mereka jalani. Ini membuat saya tertarik untuk mempelajarinya lebih dalam. Pada hari sebelumnya, tur kami pun diawali dengan mengunjungi ke tempat-tempat beribadah, salah satunya adalah Sri Mahariamman Temple yang juga merupakan tempat ibadah orang India Tamil. Kuil ini berhubungan erat dengan kuil-kuil di Batu Caves khususnya dalam hal perayaan festival Thaipusam.
Patung Hanoman.
Dari sekian banyak struktur buatan manusia di situs ini, patung Dewa Murugan merupakan yang paling menonjol sehingga menjadi ikon tempat ini. Bagaimana tidak, patung setinggi 42,7 meter itu diyakini sebagai patung dewa-dewi Hindu tertinggi kedua di dunia. Patung ini nampak sangat mengagumkan bagi para peserta tur yang baru pertama kali datang maupun kami yang sudah pernah kemari. Sama seperti saat terakhir kami ke sini, ada banyak burung berkeliaran di sekitar spot foto dengan patung itu. Saking banyaknya burung serta pengunjung kuil, nampaknya tidak mungkin mengambil foto bersama patung Dewa Murugan tanpa ada orang lain tertangkap di dalam foto tersebut.

Memberi makan para burung bisa menjadi kegiatan alternatif di Batu Caves.
Patung Dewa Murugan nampak belakang.
 
Tepat di sebelah patung, terdapat 272 anak tangga menuju kuil utama yang terletak di dalam gua. Kami harus ekstra hati-hati ketika naik tangga karena permukaannya licin sehabis hujan. Dari jauh, kami sempat menyaksikan monyet-monyet sedang berkelahi. Tidak yakin apa masalahnya, namun sepertinya cukup serius dilihat dari luka cakar yang diderita seekor monyet di ekornya. Beberapa pengunjung takut pada monyet-monyet ini dan selalu berusaha menjauh dari mereka. Sebaliknya, beberapa pengunjung lagi malah sengaja mendekat dan berfoto dengan para monyet.

Seekor monyet sedang makan di pegangan tangga Batu Caves.

Di dalam gua kuil utama

Kembali dari Batu  Caves, bukannya kembali ke stasiun lama, kami malah sengaja turun di KL Sentral, hub transportasi utama KL saat ini. Dengan antusiasnya kami menunjukkan pada para peserta benda-benda yang kami rasa menarik pada saat pertama kali kami datang ke sini, seperti mesin penjual minuman yang menjual minuman dingin. Nampak seperti hal biasa yang juga ada di tanah air, namun jika di Indonesia harga minuman di vending machine biasanya jauh lebih mahal daripada di minimarket, di sini malah lebih murah. Di stasiun ini pun tersedia loker koin penitipan barang.
Vending Machine di KL Sentral
 
Dari KL Sentral, kami kembali hendak mengunjungi sebuah tempat ibadah yang menarik. Naik LRT, kami turun di Stasiun Masjid Jamek. Tepat di luar stasiun, berdiri masjid paling penting dalam perjalanan sejarah Kuala Lumpur. Untuk masuk ke Masjid Jamek, ada aturan yang cukup ketat soal pakaian. Pakaian kami tidak memenuhi syarat jadi kami hanya menikmati arsitektur unik masjid dari luar. Lalu kami pun berjalan kaki sedikit dan menemukan satu masjid lainnya yang dinamakan Masjid India. Baik Masjid Jamek maupun Masjid India didesain oleh orang Inggris beragama Kristen loh. Kami pun menuju Jalan TAR untuk makan siang di sebuah kedai mamak-sebutan bagi restoran India Muslim. Karena sedang jam istirahat makan siang, kedai itu cukup ramai dipenuhi oleh para pegawai kantoran. 
Masjid Jamek

Jalan Melayu di dekat Masjid India merupakan tempat belanja barang-barang murah di KL.
Antrean panjang makan siang

Setelah makan siang, kami memasuki area kota tua KL. Ada banyak bangunan warisan kolonial yang terawat dengan baik. Di sinilah letak kantor-kantor pemerintahan Inggris pada zaman itu. Terdapat pula sebuah gereja tua bernama St.Mary's Cathedral yang dulunya diperuntukkan bagi orang-orang Inggris yang rata-rata beragama Anglikan. Sesungguhnya amat menarik berada di sini, tapi kami tidak mau terlalu lama terpesona dengan keindahan bangunan-bangunan tua karena panas mataharinya KL yang sungguh amat ganas. Kami pun berjalan lewat area basement Dataran Merdeka untuk bersembunyi dari sengatannya. Tadinya kami kira area bawah tanah hanyalah tempat parkir kendaraan tapi ternyata juga terdapat semacam mal kecil yang berujung pada halaman depan KL City Gallery, tempat favorit kami selama tur ini.
Sultan Abdul Samad Building, salah satu situs yang paling skenik di area kota tua.
Menuju basement

Ada banyak hal untuk dilakukan di KL City Gallery. Di luar bangunan, kami dapat befoto dengan ikon "I love KL". Di dalam, kami dapat belajar sejarah Kuala Lumpur, menikmati wifi gratis dan bahkan mendapatkan souvenir gratis! Salah satu yang paling menarik adalah melihat miniatur kota KL yang menunjukkan tata kota saat ini dan rencana ke depan. Sepertinya ibukota Malaysia ini direncanakan dengan sangat baik. Jadi berasa iri deh. Galeri ini juga tempat yang baik untuk berbelanja. Meski barang-barangnya lebih mahal daripada di toko oleh-oleh biasa tapi kualitas di sini pun nampak lebih bagus.
 
Belajar sejarah KL di dalam KL City Gallery
Kami bisa melihat langsung para seniman  membuat barang-barang yang dijual di tokonya.

Berikutnya kami ke Muzium Textile yang terletak di seberang KL City Gallery. Di sana hampir tidak ada pengunjung lainnya selain kami. Satpam museum pun sepertinya merasa kesepian sehingga berinisiatif mengajak kami ngobrol dan seperti layaknya seorang pemandu wisata, ia menjelaskan suku-suku yang ada di Malaysia dengan menunjuk pada gambar yang terpampang di tembok museum. Di sini kami dapat melihat berbagai jenis pakaian adat. Museum ini juga menyediakan souvenir gratis untuk pengunjung loh.

Sebelum kembali ke tempat kami menginap yang jaraknya hanya sekitar 100 meter dari Dataran Merdeka, beberapa peserta mampir berbelanja di Central Market dan Kasturi Walk. Kemudian kami pun mempersiapkan diri untuk merayakan Malam Natal di luar negeri untuk pertama kalinya. Di area Chinatown ada beberapa gereja yang semuanya kelihatan bekas peninggalan kolonial. Memang di Malaysia tidak diperbolehkan untuk membangun gereja baru. Tapi tidak berarti keharmonisan umat beragama di sini tidak baik. Buktinya, tidak pernah ada pembubaran paksa saat orang sedang beribadah di gereja (tidak seperti di tanah air).
 
Chinatown ketika gelap
 
Gereja yang kami pilih untuk merayakan Malam Natal kali ini tentunya adalah yang menggunakan pengantar bahasa Inggris. Setelah makan malam ikan panggang Portugis yang terkenal di Petaling Street, bersama-sama kami pun segera jalan menuju gereja. Datang terlambat karena tempat makan malam tadi sangat ramai sehingga pesanan kami lama keluar, kami juga sempat salah masuk ke gereja berbahasa Tionghoa. Keluar dari sana, akhinya kami tiba di gereja yang awalnya kami tuju. Sungguh amat mengesankan bagi kami, setelah mengunjungi berbagai tempat ibadah di KL baik itu kemarin maupun hari ini kali ini kami mendapat kesempatan untuk beribadah pula. Meskipun sudah di penghujung acara, tapi kami tidak melewatkan momen terbaiknya, yaitu penyalaan lilin!

Merayakan Malam Natal di luar negeri!


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Peta Dunia TRAVELdonk

Peta Dunia TRAVELdonk