19 Juni 2015

Mlaku-Mlaku Melaka

Jika hendak berbulan madu ke luar negeri tapi enggan menghabiskan terlalu banyak biaya, pergilah ke Melaka. Kota yang disebut-sebut sebagai 'Venesia dari timur' ini memang cocok bagi pasangan yang baru menikah karena suasanya yang romantis terutama di sepanjang sungainya. Kota tua ini merupakan surga bagi pecinta sejarah maupun pemburu foto. Sekedar berjalan-jalan di sepanjang sungainya pun sudah sangat menyegarkan jiwa.

Melaka dapat dijangkau dengan mudah dari Kuala Lumpur maupun kota-kota lainnya di Malaysia. Saat itu kami berangkat dari Johor Bahru menggunakan bus. Sesampainya di Melaka Sentral, kami lanjut naik bus lokal no.17 dan turun langsung tepat di Dutch Square tempat ikon utama wisata Melaka berada; Christ Church. Dibangun oleh Belanda pada tahun 1753, gereja ini masih aktif dipakai beribadah hingga sekarang. Saat sedang tidak ada ibadah, pengunjung bebas masuk ke dalam tanpa dipungut biaya. Berfoto dengan latar belakang Christ Church sepertinya sudah menjadi agenda wajib para pelancong yang datang ke Melaka.

Bukan hanya Christ Church, tapi hampir semua bangunan di sekitar Dutch Square dicat merah. Salah satu bangunan lainnya yang menonjol adalah Stadhuys yang dulunya merupakan kantor pemerintahan kolonial Belanda. Kata stadhuys sendiri berpadanan dengan kata state house dalam bahasa Inggris. Kini bangunan tersebut dimanfaatkan sebagai museum.

Dutch Square sendiri merupakan tempat yang asyik untuk nongkrong. Terkadang ada pemusik jalanan yang meramaikan suasana di alun-alun ini. Ada beberapa penjual oleh-oleh juga yang tertata rapih di pinggirannya. Saat sore hari, kicauan burung-burung dari atas pohon-pohon rindang di sini terdengar nyaring sekali seolah seperti keluar dari pengeras suara.

Salah satu hiasan di Dutch Square

Dari belakang Stadthuys, ada tangga yang menghantarkan kami ke sebuah bukit yang dinamakan St.Paul's Hill. Di sinilah berdiri St.Paul's Church, sebuah gereja yang lebih tua daripada Christ Church tadi. Gereja ini didirikan pada zaman kolonial Portugis dan pernah menjadi tempat disemayamkannya jenazah misionaris terkenal Fransiscus Xaverius yang patungnya kini terpampang di depan bangunan gereja itu. Berbeda dengan Christ Church, gereja ini sudah tidak aktif sejak lama. Bahkan atap bangunannya pun sudah tidak ada. Sempat dimanfaatkan sebagai gudang senjata oleh pihak Inggris, kini St.Paul's Church menjadi tempat ditaruhnya batu-batu nisan besar dari kuburan Belanda maupun Inggris.
St. Paul's Church yang berada di puncak St. Paul's Hill

Tampak dalam St.Paul's Church

Turun dari St. Paul's Hill lewat arah yang berbeda, kami menemukan bangunan istana Kesultanan Melaka. Sayangnya, istana ini merupakan sepenuhnya replika karena yang asli sudah dihancurkan oleh penjajah saat Melaka ditaklukkan oleh Alfonso de Albuquerque pada tahun 1511. Di dekatnya terdapat pula A Famosa yang merupakan reruntuhan benteng Portugis yang dibangun untuk mempertahankan posisi mereka setelah menaklukkan kesultanan. Tapi toh akhirnya benteng ini jatuh juga ke tangan Belanda dan kemudian Inggris.

Becak-becak wisata terparkir tepat di depan A Famosa

Merasa puas menyelami sejarah bangunan-bangunan tua, kami pun kembali ke dunia modern dengan masuk ke dalam mal Dataran Pahlawan yang pintu utaranya terletak sangat dekat dari benteng tadi. Keluar lewat pintu barat mal, kami langsung mendapatkan sebuah taman yang dihiasi kendaraan-kendaraan yang dapat menjadi spot foto menarik. Dari situ kami berjalan kembali ke Dutch Square tanpa perlu naik turun tangga lagi. Berbagai macam museum berjejer di sepanjang jalan kami kembali ke sana.

Banyak orang menjadikan Melaka sebagai day trip dari Kuala Lumpur. Namun, karena kami sedang berbulan madu kami menginap dua malam di sini. Guesthouse murah dengan suasana Cina Peranakan menjadi pilihan kami. Lokasinya yang tepat berada di jantung kota tua Melaka menjadi pertimbangan kami memilih penginapan ini. Tepat di depan tempat kami menginap ini terdapat salah satu kuil Hindu tertua di Malaysia; Sri Poyyatha Vinayagar Moorthi Temple (1781). Sedangkan tepat di samping kuil itu terdapat Masjid Kampung Keling (1748). Masih di jalan yang sama terdapat pula Chen Hong Teng Temple (1645). Jadi, jalan-jalan santai di sekitar penginapan saja suasananya sudah cukup menarik. 

Banyak hal menarik yang dapat ditemukan ketika berjalan-jalan di kota tua Melaka
Dinding bangunan tua yang dibuat berwarna-warni

Soal urusan perut, Melaka juga tak perlu diragukan lagi. Banyak orang Malaysia datang jauh-jauh dari KL kemari hanya untuk mencicipi makanan favorit mereka. Sebagai kota jadul, banyak resep makanan leluhur yang masih dipertahankan di sini. Bukan hanya jajanan-jajanan khas Baba Nyonya seperti cendol dll yang kita kenal baik di tanah air, ada pula makanan-makanan yang memang cuma ada di Melaka. Yang pertama kami cicipi adalah satay celup di Restoran Capitol. Tempat makan ini hanya berjarak 700 meter dari guesthouse kami, tapi karena sempat tersesat jadinya kami jalan cukup jauh. Begitu tiba, kami masih harus mengantri panjang karena tempat ini sangat terkenal. Padahal tepat di depan restoran ini terdapat pula tempat makan yang menjual satay celup, tapi tidak ada yang beli sama sekali. 

Sabar mengantre untuk mencicipi satay celup legendaris

Inilah satay celup dengan bumbu kacangnya

Saat pagi hari mencari sarapan di sekitar guesthouse pun kami tidak kesulitan mendapatkan makanan yang enak dan meskipun di tempat penuh dengan turis harganya masih murah. Untuk makan siang, kami mencoba chicken rice ball yang merupakan salah satu makanan khas Melaka. Seperti namanya, ayam disajikan dengan nasi yang dibentuk seperti bola. Makan nasinya tanpa lawuk apapun saja sudah berasa enak loh.

Menyantap chicken rice ball

Antrean panjang sepertinya nampak umum di tempat-tempat kuliner legendaris Melaka

Jika ada hal kurang menyenangkan dari Melaka, itu adalah cuacanya yang panas. Coba bayangkan, di KL saja panasnya sudah bukan main, apalagi di Melaka yang berada tepat di pinggir laut. Jadi kalau mau betul-betul enjoy, berkelilinglah pada saat pagi atau sore hari saat matahari tidak tinggi. Selain mengunjungi tempat-tempat bersejarah dan berwisata kuliner, aktivitas lain yang kami lakukan di sini adalah berjalan menyusuri pinggir sungai. Tempat pejalan kaki yang disediakan rapi membuatnya menjadi sangat nyaman. Jika masih malas berjalan, kita juga bisa naik perahu wisata.

Susur Sungai Melaka
Perahu wisata sedang melintasi sungai

Saat malam tiba, kami kembali ke Jonker Street yang pada siang hari tadi hanya berisi deretan bangunan tua berfungsi sebagai kedai makanan serta toko oleh-oleh, namun kini telah ditutup untuk kendaraan bermotor dan berubah menjadi sebuah pasar malam yang sangat ramai. Barang-barang yang dijual di sini sangat menarik, mulai dari makanan ringan dan minuman yang dikemas sedemikian rupa hingga pakaian dan aksesoris. Saking menariknya, menyusuri jalan yang dari ujung ke ujung panjangnya 500 meter lebih ini tidak begitu terasa. Kalaupun lelah, kita dapat beristirahat di Taman Warisan Dunia Jonker Walk yang terdapat di pertengahan jalan. Tak jauh dari situ terdapat pula makam Hang Kasturi, salah seorang pahlawan Melaka termasyur. Tidak setiap malam Jonker Street berubah menjadi pasar malam, hanya di akhir pekan saja. Kalau di hari biasa sih seperti kota mati ketika sudah gelap.

Keramaian di Jonker Street Night Market

Becak hias berbaris menunggu penumpang di ujung Jonker Street

Begitulah kisah kami mlaku-mlaku (jalan-jalan) di Melaka saat berbulan madu. Siapa tahu, para pembaca juga sedang merencanakan honeymoon ke luar negeri tapi dengan dana yang terbatas. Tidak perlu jauh-jauh Melaka-lah solusinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Peta Dunia TRAVELdonk

Peta Dunia TRAVELdonk