20 Agustus 2012

Jalur Menantang ke Yang Terlupakan

Peta Pulau Ambon
Negeri merupakan sebutan bagi desa (adat) di daerah Ambon dan sekitarnya. Pemimpin sebuah negeri dipanggil dengan sebutan raja-yang dalam pandangan masyarakat Indonesia pada umumnya lebih mirip seperti kepala desa-. Pada edisi petualangan kali ini, kami akan membahas beberapa negeri yang jaraknya berdekatan dengan Kota Ambon. Negeri-negeri ini kami kunjungi langsung dalam satu kali putaran kecil di Jazirah Leitimur.

Negeri Passo
Negeri yang pertama akan kami bahas ini merupakan garis finis dari perjalanan kami. Terletak pada 'leher' pulau Ambon, Passo memiliki arti strategis bagi masyarakat di pulau Ambon. Pada zaman Belanda, konon tempat ini sempat menjadi pos penjagaan lalu lintas orang yang datang ke Jazirah Leitimur dari Jazirah Leihitu atapun sebaliknya. Pada zaman ini, mereka yang hendak pergi dari ibukota provinsi di Kota Ambon ke tempat-tempat penting di utara seperti Bandara Pattimura, Pantai Natsepa, Pelabuhan Tulehu, dan penyeberangan kapal feri di Liang ataupun sebaliknya pasti akan melewati Passo. Tak heran jika negeri ini cukup ramai oleh lalu lalang manusia. Ditambah lagi, salah satu mal terbesar di Maluku yang bernama Ambon City Center (ACC) dibuka di area ini pada awal tahun 2012. Terdapat pula bangunan tua bersejarah yaitu Benteng Middelburg (1624), namun karena kondisinya yang tidak terurus dan letaknya terapit di antara rumah penduduk maka tidak banyak diperhatikan orang yang lewat.

Sebenarnya, Negeri Passo dapat ditempuh dengan mudah melalui jalan utama selama kurang lebih 20 menit dari Kota Ambon. Namun, kali ini kami sengaja mengambil rute yang tidak lazim mengitari jalan gunung ke Passo guna menemukan kembali tempat-tempat indah yang sering terlupakan di bagian tenggara pulau Ambon.

Negeri Soya
Terletak tak begitu jauh dari pusat kota, Negeri Soya merupakan yang pertama kami sambangi. Untuk menuju ke sana, di perempatan dekat Gereja Katedral Santo Fransiskus Xaverius kami memasuki jalan yang ada di sebelah Polda Maluku. Jalan menanjak ini membawa kami ke Gunung Sirimau. Ujung dari jalan sepanjang 4,5 km itu ditandai dengan papan bertuliskan "Mae Mae Mena di Objek Wisata Soya". Kami mesti memarkir sepeda motor kami di titik yang juga merupakan awal dari jalur pendakian itu. Di dekat papan selamat datang ini, kami dapat melihat Gereja Tua Soya, sebuah gereja tradisional yang dibangun tahun 1800-an.

Pada permulaan pendakian, kami harus berjalan melalui pemukiman warga desa. Trek pendakian ini cukup mudah untuk dijalani karena trap-trapnya dalam keadaan baik. Masalahnya, saat itu sedang gerimis jadi permukaan tangga menjadi agak licin. Setelah mendaki dengan berhati-hati selama beberapa menit, kami melihat sebuah gerbang yang tidak dijaga maupun dikunci. Puncak gunung terdapat tidak jauh dari gerbang itu. Di sana kami dapat menemukan apa yang disebut dengan 'Tempayan Setan'. Tempayan ini konon selalu terisi air tanpa memedulikan musim hujan ataupun kemarau. Penduduk lokal percaya air tersebut dapat menyembuhkan penyakit apapun. Itulah alasan orang datang ke puncak Gunung Sirimau. Sayangnya, jika bukan untuk urusan klenik, tidak banyak yang dapat dilakukan di tempat ini.

Saya rasa pemerintah lokal mestinya bisa membuat yang lebih baik untuk mengelola Negeri Soya sebagai salah satu tempat wisata utama di sekitar Kota Ambon. Negeri ini sejatinya memiliki potensi pariwisata yang cukup besar. Terletak 400 meter di atas permukaan laut, desa ini dulunya sebuah kesultanan yang dominan sebelum dikalahkan oleh Portugis dan kemudian oleh Belanda. Banyak upacara-upacara kebudayaan masih dilakukan dan hukum adat masih diterapkan di sini. Keramahtamahan penduduknya terhadap orang luar desa juga menjadi poin tersendiri. Hal ini terlihat dari hangatnya sapaan penduduk desa yang kami temui pada saat kami jalan kembali turun. Mereka nampak sedang menuju ke arah hutan untuk mengumpulkan kayu.

Kembali ke parkiran sepeda motor, kami punya masalah. Kami lupa membawa jas hujan sedangkan di sana pun tidak ada tempat berteduh. Jadi, mau tidak mau kami harus pergi menerobos hujan.

Titik awal pendakian ke Gunung Sirimau
Trap-trap menuju puncak Gunung Sirimau. Kata trap yang berasal dari kosakata Belanda ini lebih umum dipakai oleh masyarakat Ambon dibanding frase anak tangga.
Gerbang yang tidak terkunci
Negeri Naku
Dari Desa Soya, kami kembali hingga sebuah pertigaan dimana kami melihat papan petunjuk arah ke Passo yang sekarang letaknya berada di sisi kiri kami. Kami ikuti papan tersebut dengan belok kiri dan kemudian belok kiri sekali lagi ketika kami tiba di pertigaan lainnya. Setelah sekitar 5 kilometer, kami melihat di sisi kanan gerbang masuk Negeri Naku, sebuah desa yang memiliki pantai cantik yang tersembunyi sehingga memerlukan usaha lebih untuk mencapainya. Klik  di sini untuk membaca cerita perjalanan kami ke Pantai Naku di lain hari.

Negeri Hukurila
Berikutnya tempat yang kami kunjungi adalah Pantai Hukurila. Dari gerbang masuk Desa Naku, kami ikuti terus jalan sekitar 3 km hingga kami tiba di Desa Hukurila. Awalnya kami tidak melihat tanda-tanda adanya pantai, namun kemudian kami bertanya pada penduduk sekitar yang dengan senang hati memberi tahu kami lokasi pantai. Pantai Hukurila dikatakan memiliki keindahan bawah laut yang tidak kalah dari Raja Ampat serta gua bawah laut yang menarik bagi para penyelam. Karena menghadap arah timur, pantai ini juga dapat dinikmati sambil menyaksikan matahari terbit. Hari itu kami datang tidak terlalu pagi. Lagipula cuaca sedang mendung, matahari hampir tidak kelihatan. Air laut saat itu sedang tidak terlalu bening karena musim penghujan. Bagaimanapun itu, Pantai Hukurila dengan pemandangan gunung berapi non-aktif ini tetap cukup menarik bagi kami. 
Pantai Hukurila, sebuah kombinasi sempurna antara gunung dengan pantai.
Kami menjadi satu-satunya turis di pantai itu.
Menikmati suasana pantai beberapa saat, kami kemudian meninggalkan desa dengan menyeberangi jembatan. Mulai dari sinilah pemandangan laut dari dataran tinggi tersaji di depan mata kami begitu menakjubkan. Namun di lain sisi, kondisi jalannya juga semakin menantang. Akhir-akhir ini sedang musim hujan deras dan tanah longsor terjadi di beberapa tempat di Pulau Ambon. Nyatanya, titik-titik longsor yang cukup parah terdapat pula di jalan yang kami lalui. Mungkin karena alasan ini pula kami hampir tidak bertemu dengan pengguna jalan lainnya selepas dari Desa Hukurila. Sebagian besar titik longsor masih dapat kami lalui dengan sepeda motor, tapi ada satu yang benar-benar sampai memakan seluruh badan jalan. Ketika kami dihadang olehnya sudah cukup jauh untuk berputar balik. Lagipula menyerah semudah itu dan kembali lewat rute yang sama dengan tadi berangkat sama sekali bukan gaya kami.

Akhirnya, diputuskan untuk melewati hadangan longsor itu dengan menuntun sepeda motor lewat jalan sempit nan licin di luar batas pagar pengaman. Cukup beresiko mengingat lokasinya yang ada di pinggir jurang. Motor kami sempat tertahan lumpur dan terancam gagal melewati rintangan ini. Tapi kami masih beruntung. Tiba-tiba ada satu pasangan lainnya bersepeda motor juga yang searah dengan kami. Kami sekarang tidak sendirian. Pasangan ini menolong kami mendorong motor kami keluar dari lumpur hingga lepas dari area longsor. Kejadian ini yang membuat kami tidak pernah kembali lagi ke sini untuk kedua kalinya. Semoga jalan ini sudah diperbaiki pemerintah setempat saat ini.

Tanah longsor memakan hampir seluruh badan jalan.
Jalan sempit yang berbahaya ini merupakan satu-satunya pilihan yang kami punya untuk melanjutkan perjalanan.
Negeri Hutumury
Setelah menempuh jarak 8km lebih, kami tiba di Hutumury. Barangkali desa ini adalah yang paling menarik dalam perjalanan kali ini. Selain sebuah gereja tua, kami juga melihat ada banyak babi berkeliaran. Jarak laut dengan desa sangat dekat, padahal saat itu air sedang surut. Tepat di luar desa, ada sebuah pantai lagi bernama Lawena. Klik  di sini untuk membaca cerita perjalanan kami ke Pantai Lawena di lain hari.

Air laut yang sedang surut dilihat dari Desa Hutumuri.
Pohon pepaya ini tertanam di atas batu karang.
Gerbang selamat datang ke Pantai Lawena

Sekitar 15km dari sana jalan yang kami tempuh akhirnya tembus juga ke Passo. Kami masuk ke mal ACC dengan kaki bersimbah lumpur sambil merasa sangat lega seolah-olah kami habis meninggalkan peradaban beberapa tahun lamanya dan sekarang kembali ke sebuah kehidupan modern.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Peta Dunia TRAVELdonk

Peta Dunia TRAVELdonk