17 Desember 2012

Lebih Maju di Kuala Lumpur

Pemandangan dari beranda apartemen tempat kami tinggal di KL.
Menara Kembar Petronas dan KL Tower terlihat samar-samar.

Setelah di hari sebelumnya kami melalui perjalanan yang cukup melelahkan, di hari ini kami siap untuk menjelajah ibukota Negeri Jiran Malaysia; Kuala Lumpur. Namun sebelumnya, kami mesti men-charge energi dulu dengan sarapan yang bergizi. Peter, host kami, membawa kami ke warung makan sederhana di kompleks ruko dekat apartemennya. Kedai bernama Shani Cafe ini menawarkan sarapan sepuasnya dengan harga sangat terjangkau, yaitu hanya RM 4 (kira-kira Rp 13,000)! Pilihan lawuknya pun cukup beragam, dari yang biasa-biasa saja sampai paru sapi yang adalah lauk kesukaanku. Nasi yang digunakan adalah nasi lemak, semacam nasi uduk khas Malaysia. Di mana-mana di Malaysia, memang nasi lemak selalu menjadi andalan. Bahkan saat di Malaysia ini kami juga berkesempatan mencoba paket KFC yang berisi ayam dipadukan dengan nasi lemak.

Sementara di dalam negeri sendiri, terutama di daerah timur seperti Ambon misalnya, nasi ayam saja umumnya seharga Rp 20,000. Itulah salah satu alasan kuat kenapa pelancong bujet seperti kami gemar berkunjung ke Malaysia yang kaya dengan kebudayaan Melayu, Cina, dan India, lebih khususnya ke ibukota KL yang sudah memiliki sistem transportasi jauh lebih modern daripada Indonesia, sehingga nyaman untuk dieksplorasi. Dan meski sudah cukup maju, barang-barang di sini masih murah meriah!

Dari apartemen Peter, sebenarnya stasiun LRT Sri Rampai hanya berjarak sekitar 750 meter saja. Malam sebelumnya kami naik taksi karena bawa barang-barang, tapi sekarang kami yang sudah tanpa beban bisa berjalan kaki ke stasiun LRT. Kami naik LRT hingga Pasar Seni. Di situlah terletak area pecinan alias Chinatown KL, sebuah tempat yang cocok untuk berbelanja barang-barang murah. Di sepanjang Petaling Street, berderet pedagang pakaian dan makanan. Kami membeli beberapa kaos KL seharga RM 5 per buah untuk oleh-oleh. Masuk lebih ke dalam, kami menemukan Kuil Sri Mahamariamman yang merupakan kuil Hindu paling penting di KL yang letaknya di tengah-tengah deretan toko dan penginapan. Kuil ini dibangun tahun 1873 dan direnovasi tahun 1968. Karena merupakan tempat ibadah, tidak ada tiket masuk ke kuil. Akan tetapi, sebelum memasuki area kuil kami harus menitipkan sendal/sepatu dengan membayar beberapa sen. 
Suasana Chinatown pada pagi hari
Di seberang gapura masuk kuil Sri Mahammariaman
Kami lanjut berjalan menyeberangi jalan raya hingga melintasi Kasturi Walk di samping bangunan biru Central Market. Merasa cukup berbelanja di Chinatown, kami tidak membeli apa-apa lagi di sini. Lagipula barang-barang di sini sedikit lebih mahal. Lanjut berjalan sekitar 100 meter lagi, kami menemukan Dataran Merdeka. Sedang ada perbaikan jalan di sini, membuat perjalanan kami jadi kurang nyaman. Tapi melihat keindahan bangunan tua kolonial di sekitarnya yang terawat dengan amat baik, kami langsung melupakan perihal ketidaknyamanan itu. Setelah puas berfoto-foto, kami pun meninggalkan area kota tua ini dengan menyusuri Sungai Gombak sebentar hingga bertemu dengan Sungai Klang. Titik temu kedua sungai inilah yang menjadi tempat Masjid Jamek berdiri. 
Bangunan Abdul Samad merupakan bangunan tua paling ikonik di sekitar Dataran Merdeka.
Sekelompok turis asing sedang menyusuri jalan di samping sungai yang tertata dengan rapi.
Kini kami menuju ke KL Sentral, tempat pertama kami kali kami tiba dari bandara di malam sebelumnya. Di sini kami membeli tiket kereta jarak jauh ke Johor Bahru untuk esok hari. Sesuai dengan namanya, KL Sentral merupakan pusat transportasi publik di Kuala Lumpur. Pelancong dapat berganti kendaraan di sini, mulai dari LRT yang sudah pernah kami tumpangi sampai dengan saat ini, kereta komuter, kereta bandara, bus bandara, bus ke Genting dan juga monorail. Tempat naik monorailnya tidaklah benar-benar berada di satu gedung bersama dengan yang lainnya. Jaraknya terpisah 100 meter dari gedung utama tapi tetap terintegrasi baik dengan adanya petunjuk arah yang jelas. Monorail merupakan suatu hal lain yang baru bagi kami. Sampai saat ini, proyek monorail di Jakarta masih sebatas wacana dan wacana saja.

Naik monorail dan turun di Stasiun Imbi, kami sekarang tiba di mal raksasa yang terkoneksi langsung dengan stasiun tersebut, namanya Berjaya Times Square. Saat itu kebetulan sedang ada program MYES (Malaysia's Year End Sale), jadi ada banyak diskon besar-besaran yang ditawarkan berbagai toko. Ini sungguh menggoda kami untuk membeli lebih banyak pakaian. Harga-harganya sangat murah dan modelnya bagus-bagus. Kami tidak yakin bisa mendapat barang yang sama di Indonesia. Sejak saat itulah Berjaya Times Square menjadi mal favorit kami di KL.
Berjaya Time Square, sebuah mal besar dengan barang-barang murah terutama pakaian yang menarik turis untuk menghabiskan uang di tempat ini.

Mal Berjaya Times Square merupakan tempat terakhir yang kami kunjungi di hari ini meskipun saat itu hari belum gelap. Pasalnya, host kami, Peter dan Jay hendak mengajak kami makan malam bersama. Kami pun kembali naik monorail dan turun di Bukit Nanas. Dari situ kami pindah ke stasiun LRT Dang Wangi yang meskipun berjarak 300 meter namun terkoneksi dengan baik. Laluan pejalan kaki beratap dan petunjuk arah yang jelas seolah memotong jarak tersebut dan menyatukan kedua stasiun. Lagi-lagi Kuala Lumpur menunjukkan konektivitas moda transportasi yang sangat baik.

Di akhir hari ini, kami sangat senang di satu sisi namun sedih di sisi lain karena setelah melihat-lihat sedikit kami sadar kalau negeri kami masih ketinggalan jauh dari tetangganya. Padahal sekitar 20 tahun sebelumnya, KL hampir tidak punya apa-apa sedangkan Jakarta sudah punya Monas, Taman Mini dan tempat-tempat menarik lainnya. Sungguh perkembangan yang amat pesat ibukota Malaysia ini miliki.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Peta Dunia TRAVELdonk

Peta Dunia TRAVELdonk