18 Desember 2012

Menjulang Tinggi di Ibukota Malaysia

Salah satu sudut kota Kuala Lumpur dilihat dari KL Tower
Pada hari terakhir ini, kami pergi melihat atraksi paling top di Kuala Lumpur, yaitu Menara Kembar Petronas! Kami mengambil beberapa foto dengan latar belakang menara kembar yang menjulang tinggi seperti kebanyakan orang lainnya, namun kami tidak sempat naik ke puncak menara maupun ke skybridge yang menghubungkan kedua menara tersebut. Taman KLCC tempat kami befoto ini sangatlah menyenangkan. Berlokasi tepat di belakang menara kembar, taman ini terbuka untuk umum setiap harinya serta menyajikan banyak fasilitas seperti trek lari, kolam renang, taman bermain anak, dan keran air minum. Sungguh asyik memang memilki area hijau di tengah-tengah hiruk pikuknya kota metropolitan.

Menara Kembar Petronas yang sangat terkenal
Meninggalkan taman hingga ke sisi depan menara kembar, kami melihat beberapa bus berwarna ungu bernama GoKL sedang terparkir rapi. Tertulis di badan bus bahwa ini adalah layanan gratis, maka tanpa berpikir panjang kami pun langsung naik saja. Di dalamnya sangat nyaman, ada wi-fi nya pula! Layanan bus gratis ini merupakan salah satu dari dua trayek yang disediakan cuma-cuma oleh pemerintah setempat bagi umum untuk berpindah tempat di area pusat kota. Trayek ini mencakup area KLCC dan Bukit Bintang. Karena ketidaktahuan, kami turun di dekat mal Berjaya Times Square dan dari situ kami lanjut berjalan cukup jauh menuju menara lainnya yang juga sangat menonjol karena menjulang sangat tinggi ke udara, yaitu Menara KL alias KL Tower. Sebetulnya, kami dapat turun tepat dekat pintu masuknya, jika naik bus gratis GoKL trayek lainnya (Bukit Bintang-Pasar Seni). Tapi tak apa lah, toh kami jadi bisa melintasi beberapa tempat perbelanjaan seperti Plaza Low Yat dan juga gang-gang kecil. Akhirnya, kami sampai juga di gerbang masuk area Menara KL. Dari dekat gerbang, tersedia free shuttle ke bangunan menara yang rupanya terletak di atas bukit kecil. Jujur kami cukup menyesal datang ke tempat yang agaknya seperti perangkap turis ini. Atraksi ini sangat tidak cocok bagi pelancong dengan bujet terbatas. Harga tiketnya untuk ke observation deck sebesar RM 50 per orang. Di atas sana, tidak ada sesuatu hal yang istimewa, hanya seperti Monas di Jakarta. Tempat ini tidak kami rekomendasikan bagi pelancong bujet kecuali jika datang ke sini hanya untuk berfoto dengan menaranya dari luar.

Untungnya, tempat terakhir yang kami kunjungi jauh dari kata mengecewakan. Untuk sampai ke sana, kami perlu naik kereta komuter hingga stasiun terakhir yang berada sedikit di luar kota Kuala Lumpur. Begitu keluar dari stasiun itu, kami langsung disambut oleh patung kera Hanuman. Itu menandakan kami telah tiba di Batu Caves! Datang ke tempat ini memang cocoknya di sore hari ketika udara mulai sejuk. Yang membuat kami terkesima ialah patung berwarna emas yang menjulang tinggi tepat di sebelah tangga menuju gua batu. Itulah patung Dewa Murugan, dewa pelindung orang India Tamil yang menjadi ikon dari tempat ini. Kami berhenti beberapa kali untuk mengambil foto saat menapaki tangga yang berjumlah 272 buah itu. Kadang kami juga hanya terdiam untuk beristirahat sambil menikmati keindahan alam. DORR!! Tiba-tiba, suara keras meruntuhkan kesunyian tersebut. Kami sempat berpikir itu bom. Tapi ternyata orang-orang India pengurus kuil yang membuat bunyi itu untuk mengusir monyet-monyet yang ada di sana. Ada cukup banyak monyet nakal di sini, jadi kami mesti berhati-hati dengan barang bawaan kami.
Patung berukuran raksasa Dewa Murugan beserta 272 anak tangga menuju kuil utama di dalam gua batu
Masih soal barang bawaan, kami sempat mendapat masalah di akhir kunjungan kami ke KL. Tapi ini sama sekali bukan karena monyet. Ini karena kesalahan kami sendiri. Dalam keadaan tubuh lelah dan ngantuk, kami meninggalkan apartemen Peter dan Jay di malam hari naik LRT menuju KL Sentral untuk mengejar kereta jarak jauh ke Johor Bahru. Sempat salah arah, kami malah naik yang ke arah Gombak. Ketika hampir tiba di KL Sentral, kami baru sadar kalau ada salah satu tas kami yang menghilang! Kami pun panik. Di saat yang bersamaan, keberangkatan kereta ke JB tinggal 15 menit lagi. Kami masih bingung bagaimana hal ini bisa terjadi dan apa yang harus dilakukan. Untungnya, paspor kami tidak di dalam tas itu. Akhirnya dalam keadaan seperti itu, kami memutuskan untuk membatalkan tiket kereta yang sudah dibeli sebelumnya (separuh uang dapat kembali). Lalu kami secepatnya melaporkan hal ini pada petugas stasiun dengan berharap tasnya dapat kembali di kemudian hari. Dan hal itu terjadi! Ketika kami sudah kembali ke Jakarta, sesorang menghubungi lewat email memberi tahu bahwa ada orang yang menemukan tas kami di atas LRT yang kami tumpangi ke Gombak. Dengan baik hati, Jay bersedia mengambil tas itu di pusat lost and found sehingga kami bisa mendapatkannya kembali ketika suatu saat nanti kami kembali ke KL.
See Also:
KUALA LUMPUR: Genting Highlands
KUALA LUMPUR: One Utama and Old KL Railway Station

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Peta Dunia TRAVELdonk

Peta Dunia TRAVELdonk