16 Desember 2012

Pertama Kalinya ke Luar Negeri

Pengalaman kami pertama kali ke luar negeri dibeli dengan harga yang sangat murah. Hanya cukup merogoh kocek Rp 1,510,100 nett/orang, kami sudah dapat menikmati perjalanan udara termasuk bagasi 15 kg, aiport tax, dan shuttle bus ke pusar kota. Angka segitu mungkin terlihat mahal bagi sebagian orang, namun perlu diingat bahwa perjalanan udaranya ini mencakup Ambon hingga Kuala Lumpur, bukannya dari Jakarta. Jarak Ambon-Jakarta sendiri adalah 3,5 jam penerbangan (sama seperti Bangkok-Jakarta!). Peta di bawah ini mungkin bisa menerangkan lebih jauh apa yang dimaksud.
Garis merah menunjukkan perjalanan kami pada bulan Desember 2012 hingga Januari 2013
Pertama-tama, kami harus terbang ke Makassar sebab tidak ada penerbangan internasional langsung dari Ambon. Dari Makassar kami naik pesawat Air Asia langsung ke Kuala Lumpur. Tampilan armada pesawat ini cukup keren dengan tema klub sepakbola Queen Park Rangers. Begitu sampai di atas pesawat, kami sudah merasa seperti di Malaysia saja. Kebanyakan penumpang kala itu sepertinya orang-orang Malaysia yang sedang kembali ke negaranya sehingga percakapan kental dengan logat Melayu ala Upin-Ipin dan Boboboi kerap terdengar di telinga kami. Terlebih lagi, rata-rata pengumuman penerbangan di pesawat itu dibawakan dalam tiga bahasa; Inggris, Indonesia dan Malaysia. Kesan bahwa kami sudah berada di negara lain semakin menjadi.
Pesawat Air Asia dengan tema QPR.
Sumber: https://www.traveldailymedia.com/airasia-unveils-qpr-plane/

Setelah 3 jam lebih, pesawat keren yang kami tumpangi ini mendarat di bandara Low-Cost Carrier Terminal alias LCCT. Maskapai-maskapai berbiaya rendah macam Air Asia memang tidak mendarat di bandara utama KLIA. Kalau dilihat dari bentuk bangunannya, bandara LCCT ini memang kelihatan low-cost nya. Namun hal itu bukan merupakan soalan bagi kami selama kami tidak menemukan masalah dalam hal kedatangan. Proses imigrasinya ternyata sangat simpel, tidak seribet yang kami bayangkan sebelumnya. Meskipun harus mengantre cukup panjang, tapi setelah dapat giliran tanpa banyak ditanya paspor kami distempel masuk Malaysia.

Setelah beres semuanya, kami lalu meninggalkan bandara ke KL Sentral dengan shuttle bus bandara yang sudah kami pesan bersamaan dengan penerbangan ke sini. Jarak dari bandara ke pusat kota cukup jauh, yaitu sekitar 60 km. Untung akses jalanan di sini sudah baik sekali sehingga hanya memerlukan waktu 1 jam saja. Coba bandingkan dengan akses bandara Soetta ke pusat kota Jakarta yang berjarak hanya separuhnya!

KL Sentral itu semacam stasiun berbagai moda transportasi yang saling terintegrasi ditambah dengan restoran-restoran cepat saji, foodcourt, minimarket dan fasilitas lainnya sehingga hampir kelihatan seperti mal. Namun, saat kami tiba itu sudah malam dan sudah banyak vendor yang tutup sehingga tempat ini cukup sepi. Dari sekian banyak moda transportasi yang tersedia, kami memilih naik kereta LRT (Light Rail Transit). Ini merupakan sesuatu hal baru bagi kami. Sampai saat ini belum ada transportasi semacam ini di negeri kami. Kereta ini cepat, nyaman, dan.... nantinya baru kami sadar kalau tidak ada masinisnya. Semuanya digerakan secara otomatis!
Menunggu kereta di stasiun bawah tanah LRT
Turun di Stasiun Sri Rampai, kami kemudian naik taxi sampai ke apartemen couchsurfer yang menjadi host buat kami beberapa malam ini. Kami merasa tidak enak karena datang cukup larut malam. Untungnya itu tidak masalah buat mereka. Kami sempat ngobrol-ngobrol sebentar sebelum tidur di........ sebuah kasur yang nyaman layaknya sebuah hotel berbintang. Padahal kami sudah membayangkan tidur di sofa atau sejenisnya. Memang sih kami butuh istirahat yang berkualitas sebelum meladeni jiwa petualang kami yang menggebu-gebu untuk berkelana di negeri yang baru.

Mr Peter (Kiri) dan Abang Jay (Kanan) adalah orang-orang yang memberikan kami tumpangan tempat tinggal di KL
Zzzzzz

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Peta Dunia TRAVELdonk

Peta Dunia TRAVELdonk