23 Desember 2013

KuaTour (Bag.1): Hujan Tak Menghentikanku

Kembali lagi ke Kuala Lumpur, kali ini kami tidak hanya datang sebagai turis biasa tapi juga sebagai pemandu wisata untuk keempat teman kami yang baru pertama kali bertandang ke sini. Tur perdana yang merupakan sebuah pencapaian penting bagi kami ini dinamakan 'KuaTour', singkatan dari Kuala Lumpur Tour, tapi yang juga terdengar seperti 'ku atur'. Artinya, tur ini sudah diatur sedemikian rupa sehingga para peserta tidak perlu repot-repot mempersiapkan tiket pesawat, hotel, dan susunan rencana perjalanan sendiri. Namun di sisi lain, mereka juga masih punya kesempatan untuk benar-benar merasakan pengalaman otentik yang tidak bisa didapatkan oleh turis-turis yang menggunakan bus wisata. Untuk masalah akomodasi, kami memilih tinggal dekat dengan Central Market di Chinatown yang sering menjadi pilihan utama para pelancong hemat karena lokasinya yang sangat strategis.
Tur dimulai pada jam 6 pagi waktu setempat ketika langit masih gelap. Kami berjalan kaki ke tiga kuil tua yang terletak saling berdekatan di Chinatown. Kuil pertama yang kami sambangi adalah sebuah kuil Sikh bernama Gurdwara Sahib Polis yang cukup asing bagi kami karena agama Sikh hampir tidak pernah terdengar di tanah air. Oleh pemerintah kolonial Inggris, tempat ibadah ini dimaksudkan bagi para opsir polisi Sikh, namun sekarang kuil tersebut terbuka bagi siapapun, bahkan untuk non-penganut seperti kami. Untuk masuk ke dalam, kami diwajibkan untuk mengenakan ikat kepala yang telah disediakan oleh pihak kuil. Tidak tahu cara memakainya, kami tidak jadi masuk ke dalam gedung karena takut akan mengganggu kenyamanan para umat yang sudah mulai berdatangan ke kuil itu. Orang-orang Sikh ini dapat dengan mudah dikenali dengan wajah India mereka ditambah jenggot panjang, ikat kepala khas, serta namanya (Singh untuk pria dan Kaur untuk wanita).
 
Kuil berikutnya yang kami kunjungi adalah Sri Mahamariamman Temple, yang merupakan kuil Hindu terpenting di KL. Tiap tahunnya perayaan Thaipusam dimulai di sini. Kuil ini dibangun pada tahun 1873 dan direnovasi di tahun 1968. Untuk masuk ke dalam kuil, kami mesti melepas alas kaki dan menitipkannya ke petugas dengan membayar beberapa sen. Sambil menunggu langit agak terang, kami duduk-duduk sambil mengamati orang-orang India Tamil yang sedang melakukan ritual ibadah. Fitur yang paling menarik dari kuil ini adalah gapura lima tingkatnya yang dihiasi dengan ukiran tokoh-tokoh dari cerita Ramayana.
Gapura alias gopuram bergaya India selatan di Sri Mahamariamman Temple
Ketika langit sudah semakin cerah, kami lanjut berjalan ke kuil Tao mungil berwarna merah yang dibangun tahun 1888, letaknya berseberangan dengan Sri Mahamariamman Temple. Jika pernah membaca Legenda Tiga Kerajaan atau Sam Kok, pasti kenal tokoh yang bernama Guan Yu alias Guan Gong alias Guan Di. Kuil ini hanyalah satu dari sekian banyak kuil di seluruh dunia yang didedikasikan untuk beliau. Salah satu atraksi utama di dalam kuil, yaitu golok raksasa Guan Di yang disebut guan dao, tidak terlihat. Mungkin kami datang terlalu dini, sehingga belum dipasang di posisinya. Konon orang yang menyentuh terlebih mampu mengangkat senjata seberat 59kg itu akan mendapat berkah.

Guan Di Temple di Chinatown, KL

Hujan mulai turun. Kami pun segera kembali ke guesthouse untuk mandi. Setelah sarapan, cuacanya kembali cerah sehingga kami dapat melanjutkan tur ke pusat keramaian turis di Kuala Lumpur, yaitu Bukit Bintang dan KLCC. Pertama-tama kami jalan ke tempat pemberhentian bus di Pasar Seni untuk naik bus GoKL. Bus yang melintasi titik-titik penting di pusat kota ini merupakan andalan kami karena selain gratis, sangat nyaman pula. Rute bus GoKL yang kami naiki hanya sampai di Bukit Bintang sebelum memutar balik ke Pasar Seni. Begitu turun, kami bisa saja langsung pindah ke bus GoKL lainnya dengan rute Bukit Bintang-KLCC untuk segera ke Menara Kembar Petronas. Namun kami memilih mampir terlebih dahulu ke Pavilion, mal paling populer di pusat kota Kuala Lumpur.
Begitu masuk mal, kami langsung menuju ke Tokyo Street yang terletak di lantai paling atas. Area ini kental dengan nuansa Jepang sehingga bagi yang belum mampu melancong ke Negeri Sakura seperti kami ini tetap dapat menikmati sensasi seolah berada di Jepang. Tokyo Street bukan satu-satunya hal menarik yang dimilki mal Pavilion. Dekorasi tematik indoor maupun outdoor yang menawan menjadi ciri khas pusat perbelanjaan ini. Karena pada saat itu adalah akhir tahun maka interior mal dipenuhi dengan hiasan Natal yang meriah. Di luar pintu utama mal pun tak kalah menarik dengan adanya air mancur ikonik mal Pavilion. Mal ini juga terhubung dengan KLCC yang jaraknya 500 meter lebih melalui indoor skybridge dengan lebar 5m yang dilengkapi dengan pendingin udara.

Air mancur di luar pintu utama Pavilion yang sangat popouler sebagai spot foto(kiri).
Pintu utama ke Pavilion dengan hiasan Natal (kanan)
Starhill Gallery dengan arsitektur uniknya terletak tepat di seberang Pavilion.
Salah satu sudut di Tokyo Street.

Jalan kaki dari Bukit Bintang ke KLCC menjadi sangat nyaman dan efisien.
 
Menara Kembar Petronas tak diragukan lagi masih merupakan tujuan pariwisata utama di Kuala Lumpur. Pelancong yang pertama kali datang ke KL pastinya ingin berfoto dengan menara kembar yang ikonik tersebut. Tempat terbaik untuk melakukannya adalah di KLCC Park. Di sinilah para peserta tur kami yang tadinya tidak terlalu banyak mengambil gambar mulai berfoto ria, bahkan tanpa mengindahkan panasnya matahari siang itu. Kami berdua yang sudah pernah berfoto sebelumnya ketika pertama kali ke sini pun masih mengambil beberapa foto lagi, tapi kali ini dari sudut yang berbeda. Setelah puas, kami berdua berteduh di bawah pohon sambil menunggu yang lain selesai. Selain ada banyak pohon besar, ada juga kolam renang umum di tengah-tengah taman yang membuat suasana menjadi lebih sejuk. Banyak orang, dewasa maupun anak-anak, terlihat sedang menikmati bermain air di kolam renang itu. Tapi tidak seorang pun dari kami yang ikut berenang. Untuk menyejukan diri, kami cukup meminum air segar dari keran siap minum yang menjadi salah satu fasilitas taman. Setelah puas, akhirnya kami pun masuk ke dalam Mal Suria KLCC, pusat perbelanjaan modern yang terletak tepat di bawah menara kembar setinggi 88 lantai itu untuk menikmati sejuknya AC mal sekaligus makan siang.
  

Selanjutnya kami ke mal Berjaya Times Square. Untuk dapat ke sana, kami cukup naik bus GoKL dari halaman depan gedung Petronas. Saat sudah berada di atas bus dan membaca pengumuman yang tertempel pada jendela bus, kami baru tahu bahwa ada perubahan rute sehingga kini bus tidak melewati Imbi dimana Berjaya Times Square terletak. Jadi, kami turun di perempatan Bukit Bintang lalu berjalan ke Imbi. Ternyata, jaraknya tidak terlalu jauh. Berjaya Times Square sangat menarik hati kami saat datang pertama kalinya ke KL. Kali ini kami memiliki kesempatan kembali ke sana untuk berbelanja barang-barang murah.

Di dalam Berjaya Times Square
Kembali ke perempatan Bukit Bintang, kali ini kami jalan ke arah lainnya dimana sepanjang jalan kami melihat sisi gelap KL. Perempuan-perempuan seksi berbaris menawarkan jasa pijat plus-plus hanya beberapa meter dari pos polisi, seolah-seolah itu adalah sesuatu yang legal. Sempat hujan deras, kami berteduh di dekat ikon Ain Arabia. Ain Arabia yang berarti 'mata Arab' merupakan area yang dimaksudkan bagi turis-turis Arab yang kerap berdatangan ke Malaysia terutama ketika suhu di negeri mereka sedang panas-panasnya (bisa di atas 40 derajat celcius!). Tapi pada saat itu kami tidak melihat ada orang-orang Arab, mungkin karena ini bukan musim panas.

Ain Arabia.
 
Tujuan kami berikutnya adalah ke Jalan Alor, area tempat makan outdoor populer di Bukit Bintang. Tapi kami sempat ragu bisa makan di sana karena masih hujan. Untungnya, hujan segera reda sehingga kami dapat bersantap di sana. Makanan di Jalan Alor memang enak dan murah seperti kata banyak orang. Nuansa yang ditawarkannya pun sangat eksotis dengan segala kerumunan orang dan lampion-lampionnya yang menggantung. Area Bukit Bintang secara umum juga menjadi tambah mempesona ketika malam datang karena lampu-lampunya yang berkilauan. Hujan hari ini memang tidak menghentikan kami, namun waktu jugalah yang akhirnya membuat kami menutup KuaTour di hari ini.

Makan malam outdoor di Jalan Alor
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Peta Dunia TRAVELdonk

Peta Dunia TRAVELdonk