24 Juli 2014

Hujan Abadi Curug Cipendok

Curug Cipendok

Indonesia memang tidak memiliki air terjun besar yang dapat disandingkan dengan Air Terjun Niagara, tetapi di negeri ini terdapat banyak curug yang cukup menarik untuk disambangi. Kata 'curug' berasal dari bahasa Sunda yang secara umum artinya 'air terjun', namun pada prakteknya kata ini lebih sering dipakai untuk air terjun kecil. Curug Cipendok di Kabupaten Banyumas merupakan air terjun tertinggi ke-15 se-Indonesia. Ukurannya pun relatif lebar sehingga membuatnya menjadi salah satu curug terindah di Pulau Jawa.

Terletak lumayan dekat (hanya sekitar 25 kilometer) dari kota terbesar ketiga di Jawa Tengah, Purwokerto, Curug Cipendok berhasil menarik cukup banyak pengunjung termasuk kami sekeluarga. Lokasinya pun cukup mudah dijangkau, bahkan bisa dengan transportasi umum. Caranya, dari Terminal Bus Bulupitu Purwokerto naik bus menuju Ajibarang lalu turun di pertigaan Pasar Losari, Cilongok. Dari situ, naik angkot Losari-Karangtengah hingga sampai di lokasi.

Tapi lagi-lagi, transportasi umum di Indonesia sering tidak dapat diandalkan. Khususnya di area ini, angkot-angkot jam operasinya terbatas. Kemudian, hanya beberapa yang benar-benar sampai di destinasi akhir dari rute resmi mereka. Biasanya, mereka akan berputar arah di tengah-tengah untuk mendapatkan penumpang di arah sebaliknya. Sekalipun ada satu dua penumpang di dalam angkot, para supir kadang tak ragu pula untuk berbalik arah. Dalam hal ini, penumpang akan diturunkan di tengah jalan. Oleh karena alasan-alasan tersebut, orang jarang sekali menggunakan transportasi umum untuk datang ke tempat wisata seperti Curug Cipendok. Umumnya, mereka akan membawa kendaraan pribadi seperti sepeda motor atau mobil. Jalanan menuju lokasi tergolong baik. Kami berlima tidak menemukan hambatan yang berarti ketika ke sana menggunakan mobil pribadi.

28 Juni 2014

Kisah Sehari di Bangkok


Dan perjalanan panjang kami telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentosa menghantarkan kami ke depan pintu gerbang kepulangan kami ke tanah air. Sebuah kisah sehari di Bangkok menjadi penutup manis rentetan perjalanan yang bermula dari Maros-Makassar, kemudian ke Malaysia-Singapore, lalu ke Kamboja ini.

Sekitar tengah hari, kami berangkat dari Siem Reap, Kamboja, menuju ke kota perbatasan Poipet. Minivan yang kami tunggangi menjemput kami langsung dari guesthouse tempat kami menginap. Perjalanan Siem Reap-Poipet memakan waktu sekitar tiga jam, namun kami tidak merasa bosan sama sekali karena sambil ngobrol seru dengan Bunnek, orang Kamboja ramah yang juga naik minivan itu. Sesampainya di perbatasan, sebenarnya belum terlalu telat untuk kami melintas ke Thailand, tapi kami memilih untuk menghabiskan malam di rumah sepasang bule couchsurfer yang cukup dekat dari pintu perbatasan. Inilah satu-satunya aksi couchsurfing kami selama kurang lebih dua minggu ini jalan-jalan, setelah sebelumnya kami hanya menginap di guesthouse dan hotel.

Couchsurfing dalam arti yang sebenarnya, yaitu numpang tidur di sofa
Bersama host kami Andre dan Whitney di Poipet
Kisah sehari di Bangkok dimulai di sini
Hari berikutnya pada jam 7 pagi, kami melintasi perbatasan Poipet-Aranyaprathet. Kondisinya sedang sangat padat, kebanyakan dipenuhi oleh pekerja asal Kamboja yang hendak pergi ke Thailand. Begitu menyadari bahwa kami bukanlah salah satu dari para pekerja itu melainkan turis, salah seorang petugas perbatasan langsung menawarkan 'jasa ekspres' secara terang-terangan. Meskipun kami menolak tawaran tersebut, tetap saja kami dipindahkan ke antrean turis yang jauh lebih pendek. Ini cukup membantu meskipun tidak menyelesaikan semua masalah yang ada. Sebab, antrean imigrasi masuk ke Thailand pun juga sangat panjang. Alhasil, di perbatasan ini kami membuang waktu sekitar dua jam.

Kalau saja proses melintasi perbatasannya lebih cepat, kami bisa menumpang bus kasino yang nyaman dan murah untuk ke Bangkok. Tapi sekarang kami harus mengambil pilihan lainnya, yaitu naik minivan lokal yang pangkalannya terletak beberapa ratus meter saja berjalan kaki dari pintu keluar imigrasi Aranyaprathet. Saya sebut minivan lokal karena transportasi ini sebenarnya lebih diperuntukkan bagi orang lokal, dapat dilihat dari tidak adanya tulisan berbahasa Inggris sama sekali di sana. Transportasi macam inilah yang benar-benar diharapkan oleh pelancong seperti kami yang selalu menyukai pengalaman otentik lokal daripada menjadi turis pada umumnya.

26 Juni 2014

Siem Reap Minus Angkor Wat

Angkor Wat, destinasi nomor wahid di Kamboja.
Pada suatu waktu, segerombolan pasukan Siam yang terdiri lebih dari 10,000 orang menyerbu masuk ke wilayah kekuasaan Khmer namun kemudian mereka berhasil ditaklukkan oleh rakyat Khmer di bawah pemerintahan Raja Ang Chan. Pimpinan pasukan tersebut pun tewas terbunuh dan pasukan Siam yang tersisa semuanya ditawan. Kisah ini menjadi dasar nama kota 'Siem Reap' yang berarti 'Siam dikalahkan'. Terkesan ada sebuah kebanggaan tersendiri bagi orang Kamboja dengan menyatakan inilah tempat dimana pasukan Siam mengalami kekalahan total. Akan tetapi, kebanyakan sejarahwan dunia meragukan akurasi historis dari cerita ini.

Bagaimanapun sejarah yang sebenarnya, yang pasti tentang Siem Reap adalah bahwa kota ini telah menjadi sangat populer di kalangan wisatawan mancanegara. Berdasarkan data, ada lebih banyak wisatawan asing di sini dibandingkan di Phnom Penh yang notabenenya adalah ibukota negara. Alasannya sederhana, yaitu karena Angkor Wat yang terkenal itu jaraknya hanya beberapa kilometer saja di utara kota kecil ini. Jadi jika Angkor Wat adalah alasan utama mengapa turis datang ke Siem Reap, bukankah lucu jika turis yang pertama kali datang ke sini malah enggan melakukan kunjungan ke Angkor? Nyatanya kami masih menyimpan kemungkinan tersebut loh di benak kami ketika kami sedang dalam perjalanan ke sana.

25 Juni 2014

Naik Tuk Tuk Keliling Phnom Penh

Mengawal pagoda utama Wat Phnom yang dikawal oleh dua patung penjaga.
Pada artikel sebelumya telah diceritakan tentang kedatangan kami di Kamboja untuk pertama kalinya. Baru kali ini kami mengunjungi negara yang ekonominya lebih tidak berkembang dibandingkan Indonesia. Salah satu hal yang membuat keterpurukan ekonomi tersebut jelas adalah dari ketiadaan transportasi umum di dalam kota. Absennya transportasi umum ini tentunya sangat berpengaruh pada cara kami sebagai pelancong dengan anggaran terbatas menjelajahi ibukota Kamboja.

Kami berpikir bahwa menyewa kendaraan kelihatannya merupakan pilihan terbaik, jadi kami berencana untuk menyewa sepeda. Bukan perkara mudah untuk menemukan tempat penyewaan sepeda di Phnom Penh. Setelah mondar-mandir lumayan lama, akhirnya kami menemukan satu tempat yang menyewakan sepeda. Harga yang ditawarkan terlalu tinggi sehingga kami mengurungkan niat kami itu. Saat beranjak dari tempat tersebut, tiba-tiba terbesit sebuah ide yang nampaknya lebih baik, yaitu menyewa tuk-tuk beserta dengan supir. Dengan begitu, kami tak perlu capek-capek menggenjot pedal sepeda di bawah panasnya sengatan matahari. Di saat yang sama, kami sekaligus mendapatkan pengalaman naik tuk-tuk khas Kamboja. Tapi untuk di pagi hari ini, mumpung belum terlalu panas, kami jalan kaki dulu ke Wat Phnom.

Wat Phnom yang secara historis dianggap sebagai titik nolnya kota Phnom Penh merupakan tempat yang cocok untuk memulai penjelajahan. Didirikan pada tahun 1373, kuil kuno ini dibuat setelah seorang wanita menemukan empat patung Buddha di dalam sebuah batang pohon yang mengambang di sungai. Wanita tersebut bernama Penh, yang akhirnya menjadi asal muasal nama Phnom Penh. Penduduk lokal dapat masuk keluar kuil secara gratis, namun orang asing diwajibkan membayar uang masuk $1 per kepala. Kami pun dengan jujur membayar uang masuk tersebut meski sekalipun kami melintas begitu saja mungkin dikira sebagai orang Kamboja.

24 Juni 2014

Kisah Pertama di Kamboja

Monumen Kemerdekaan di Phnom Penh
Kedatangan kami di Kamboja menandai sebuah pencapaian yang signifikan bagi perjalanan kami. Ini merupakan titik awal dari bagian terakhir perjalanan panjang kami setelah bebas dari kontrak kerja selama tiga tahun di Ambon. Seperti yang dapat Anda baca di artikel-artikel sebelumya, perjalanan panjang kami ini bermula ketika kami meninggalkan Ambon dan mengeksplorasi Maros se Makassar di Pulau Sulawesi. Kemudian, bagian kedua perjalanan ini adalah ketika kami memimpin dua tur beruntun di Kuala Lumpur plus Singapura. Dan sekarang, ketika kami menginjakkan kaki di tanah Khmer untuk pertama kalinya, tiba saatnya untuk dimulainya perjalanan pribadi kami di luar negeri.

Ini merupakan kunjungan pertama kami ke sebuah negara yang secara ekonomi lebih miskin daripada negara sendiri. Pendapatan per kapita Kamboja kurang lebih hanya separuh Indonesia. Akan tetapi, mata uang lokal mereka riel bernilai kurang lebih tiga kali lipat lebih daripada rupiah. Yang lebih menarik, riel dipakai bersamaan dengan dolar AS untuk segala macam transaksi di Kamboja. Malah pada kenyataannya, dolar AS lebih menonjol keberadaannya dibanding dengan riel itu sendiri. Tidak ada uang koin yang beredar di sana, sehingga riel-lah yang memainkan peran uang receh. Contohnya, ketika kita membeli sesuatu di Kamboja seharga 1,5 dolar menggunakan pecahan 2 dolar, maka kita akan menerima uang kembalian sebesar 2000 riel (1 dolar AS dipatok senilai 4000 riel). Nampaknya hal ini sering dijadikan sebagai contoh soal dalam pelajaran Matematika di sekolah-sekolah di Kamboja.

21 Juni 2014

SINGAKU [Bab 2]: Meninggalkan Jejak di Singapura

Masjid Sultan
Selama beberapa hari ini di Singapura, kami tinggal di area Bugis. Nama Bugis terdengar sangat familiar di telinga kami. Kami pun bertanya-tanya apakah kata ini mengacu pada salah satu suku di Indonesia. Setelah mencari tahu, ternyata memang benar kalau nama area ini diambil dari suku Bugis. Orang Bugis adalah pelaut-pelaut ulung yang berlayar dari asal mereka di Sulawesi hingga ke banyak tempat di nusantara termasuk Singapura. Mereka merupakan salah satu komunitas yang pertama-tama menempati area ini sebelum diikuti oleh komunitas-komunitas lainnya seperti orang Arab, Tiongkok dan India. Jejak kehadiran suku Bugis di area ini hampir tidak kasat mata, kecuali jika kita paham benar bahwa faktanya orang Bugis merupakan komponen terbesar dari bangsa Melayu di Singapura. 

Di Bugis inilah berdiri salah satu masjid terbesar di Singapura bernama Masjid Sultan yang merupakan peninggalan bersejarah orang-orang Melayu. Mereka membangun masjid ini secara kolektif. Beberapa dari mereka bahkan rela menjual tanah serta harta benda untuk menyumbang dana pembangunan masjid. Namun, pemerintah kolonial Inggris pun dikatakan memiliki andil besar dalam pembangunannya.

Selain masjid ini, ada pula peninggalan bangsa Melayu lainnya di area Bugis yaitu kompleks pemakaman Muslim tertua di Singapura yang terkesan agak terbengkalai. Nama dari jalan tempat hostel tempat kami menginap berada, Jalan Kubor, mengacu pada perkuburan ini.

20 Juni 2014

SINGAKU [Bab 1]: Pertukaran Peserta Tur Singapura

 Patung penyambutan di Terminal 3 Changi Airport
Hari ini terjadi pertukaran peserta tur dimana 4 orang pulang ke tanah air digantikan oleh 5 orang yang baru datang. Dengan kata lain, tur di Singapura masih berlanjut, hanya dengan orang-orang yang berbeda. Sebelum kembali menikmati tempat-tempat wisata, kami harus terlebih dahulu mengantar jemput orang-orang ini dari dan ke Changi Airport. Masalahnya, mereka tidak pergi dan datang secara bersamaan. Ada empat jadwal penerbangan yang berbeda sehingga kami harus empat kali bolak-balik ke bandara di hari yang sama. Tidak terlalu sulit memang untuk melakukannya, karena akses bandara ke kota maupun sebaliknya sudah terkoneksi dengan sangat baik via MRT. Tapi mengingat dilakukan berulang-ulang kali dengan rute yang sama, perjalanan ini jadi cukup membosankan.
Proses pertukaran peserta ini menghabiskan setengah hari sendiri. Barulah sesaat sebelum matahari terbenam kami kembali menjajaki tempat-tempat wisata. Tempat tujuan hari ini masih di sekitaran Marina Bay. Beberapa di antaranya sama persis dengan yang kami kunjungi kemarin, dengan Suntec City sebagai salah satu pengecualian. Suntec City merupakan gabungan antara mal, perkantoran dan juga balai pertemuan berkelas internasional yang katanya dibangun dengan amat memerhatikan feng shui. Yang menjadi magnet kami datang ke sini adalah Fountain of Wealth, air mancur terbesar di dunia. Tiap harinya ada jam-jam ketika air mancur diredakan agar pengunjung dapat masuk dan menyentuh pusat air mancur, banyak yang percaya agar mendapatkan keberuntungan. Air mancur yang cukup fenomenal ini dapat diakses melalui mal Suntec City. Mal yang cukup luas tersebut terhubung melalui jalan bawah tanah ke mal-mal lain seperti Citylink Mall dan Marina Square serta tiga stasiun MRT. Butuh jalan yang banyak untuk mengeksplor kesemuanya, tapi papan petunjuk jalan tersedia jelas.
Fountain of Wealth di Suntec City
Tempat lain yang berbeda dari daftar tempat yang kami kunjungi kemarin adalah Esplanade. Bangunan berbentuk durian ini merupakan pusat pertunjukkan seni seperti teater maupun konser musik. Tidak hanya di dalam ruangan, pertunjukan seni terkadang juga disajikan di luar gedung. Saat kami berada di sana, sedang ada sebuah pertunjukkan musik tradisional di depan halamannya. Yang menarik, grup seniman yang tampil di sana berasal dari Indonesia! 

Nampaknya di Asia Tenggara, Singapura merupakan jawara kekuatan ekonomi dan keteraturan sosial. Tapi dalam hal kesenian, Indonesia jelas masih unggul. Banyak lagu-lagu Indonesia laris di pasaran Singapura maupun Malaysia, tapi tidak sebaliknya. Bahkan cukup dengan pengamatan sepintas, kita tahu bahwa di antara ketiga negara tadi, Indonesia-lah yang masyarakatnya paling tidak disiplin. Mau bagaimana lagi, seniman memang kerap berpikir di luar kotak dan tidak ikut aturan, bukan?
Jembatan penyeberangan pejalan kaki yang menghubungkan Esplanade dan Merlion Park sedang dibangun.

Di dalam gedung Esplanade

Dari Esplanade kami beranjak mengunjungi tempat-tempat yang sama seperti kemarin di pinggir Marina Bay, tapi dengan nuansa yang berbeda karena sudah malam. Cahaya yang dipancarkan oleh gedung-gedung tinggi di sekitar membuat pemandangan kota menjadi lebih eksotis. Terlebih lagi ketika pertunjukkan Wonderfull Laser Show dimulai. Kami pun berhenti sejenak melihat sinar lampu dari gedung Marina Bay Sands menari-nari ke langit.

Selesai dengan pertunjukkan sinar, kami befoto-foto di Merlion Park. Meski banyak dari peserta tur setelah pertukaran hari ini yang tidak kami kenal sebelumnya, sebentar saja kami sudah saling akrab. Terutama ketika berswafoto bersama di Merlion Park. Di malam hari, patung Merlion masih saja dikerumuni pengunjung, tapi setidaknya kami tidak perlu berpanas-panasan seperti pada siang hari. Setelah dari Merlion, kami menyeberang menuju Marina Bay Sands melalui Helix Bridge, sebuah jembatan khusus pejalan kaki yang didesain sedemikian rupa sehingga bentuknya terlihat seperti DNA. Ketika malam hari, jembatan ini menyala keunguan, melengkapi indahnya pemandangan malam di sekitar Marina Bay.

Patung Merlion di malam hari
Helix Bridge yang mengarah ke Marina Bay Sands

Ngomong-ngomong, jalan-jalan kami di Singapura hari ini tidak akan hemat jika tanpa Singapore Tourist Pass. Kartu transportasi ini memberikan akses tiga hari penuh untuk bus umum, MRT dan LRT. Seperti yang telah diceritakan, kami melakukan perjalanan 4x bolak-balik ke bandara hari ini. Ongkosnya pasti akan lumayan besar jika tidak menggunakan kartu seharga $20 ini. Kartu ini dapat dibeli di stasiun MRT bandara maupun beberapa stasiun MRT lainnya. Pelancong harus membayar juga tambahan $10 untuk deposit yang dapat dikembalikan ketika nanti kartunya dikembalikan. Setelah hari yang panjang, kami sangat lelah dan mulai kehilangan barang akibat kurang konsentrasi. Satu dari anggota kami kehilangan STP-nya dan itu berarti ia juga kehilangan uang deposit di dalamnya.
Singapore Tourist Pass
Kami pulang ke guesthouse waktu sudah sekitar tengah malam, namun kami merasa aman-aman saja dalam perjalanan pulang. Kami tidak pernah merasa seaman itu ketika berjalan malam di Jakarta maupun kota besar lainnya di Indonesia. Singapura salah satu metropolitan teraman di dunia. CCTV dimana-mana dan hukuman bagi pelaku kriminalitas sangat berat. Tapi tetap harus selalu diingat bahwa tingkat kejahatan rendah bukan berarti tidak ada kejahatan sama sekali. Jangan pernah lengah ketika melancong ke mana pun.

19 Juni 2014

KUALASINGA [Bab 3]: Terkoneksi Penuh dengan Singapura

Gedung-gedung yang menjulang tinggi di jantung kota Singapura menunjukkan kekuatan ekonomi negara tersebut.
Singapura tidak hanya bisa dijangkau melalui udara menggunakan pesawat terbang, tetapi juga dapat diakses melalui darat dan laut. Akses melalui perairan akan kami bahas pada kesempatan lain. Untuk saat ini, berhubung kami datang ke Singapura dari arah Malaysia, kami hanya akan membicarakan soal akses darat. Ketika pertama kalinya kami datang ke Singapura satu setengah tahun sebelumnya, kami menggunakan bus. Kali ini kami mencoba naik kereta api. Sebenarnya, perjalanan dari Kuala Lumpur ke Singapura akan lebih cepat jika ditempuh dengan naik bus dibanding kereta api. Bus dapat melalui jalur bebas hambatan tanpa henti sedangkan kereta api berhenti di banyak stasiun di sepanjang jalan. Akan tetapi untuk perjalanan malam, ada baiknya naik kereta api yang lebih lambat karena akan merepotkan juga jika tiba terlalu pagi di saat segala layanan belum mulai beroperasi.

Stasiun terakhir sebelum Singapura adalah JB Sentral dimana seluruh penumpang diwajibkan turun dari kereta api. Rencananya, dari stasiun yang terintegrasi dengan terminal bus ini kami lanjut naik bus CW2 yang akan mengantar kami ke Terminal Bus Queenstreet di area Bugis tempat hostel yang kami inapi berada. Tapi, kami membuat sebuah kesalahan dengan mengikuti petunjuk arah ke Singapura, bukannya ke Johor Bahru. Arah ini membawa kami masuk ke pemeriksaan imigrasi khusus bagi para penumpang kereta api. Paspor kami pun diberi stempel keluar Malaysia. Setelah itu, kami tidak diizinkan untuk keluar lagi ke terminal untuk naik bus yang dimaksud. Meskipun tiket kereta kami hanya sampai JB, kami diizinkan naik kereta itu lagi hingga tiba di Woodlands, Singapura. Memang kami tidak perlu bayar lagi untuk ongkos kereta dari JB ke Woodlands, tapi ini malah menjadi masalah buat kami. Karena di luar skenario, kami tidak tahu bagaimana caranya ke Bugis begitu pemeriksaan imigrasi masuk ke Singapura selesai dijalani. Sebagai catatan, titik pemeriksaan imigrasi Woodlands untuk penumpan kereta api ini berbeda dari yang pernah kami lewati ketika naik bus.

18 Juni 2014

Ke Angkor Naik Sepeda

Selamat datang di Angkor
Angkor adalah sebuah ibukota kuno Kamboja yang sekarang merupakan sebuah kompleks taman arkeologi. Artinya, tempat ini telah menjadi tempat bagi banyak reruntuhan bangunan bersejarah. Dari sekian banyak bangunan kuno yang ada, yang paling banyak dikunjungi orang pastinya adalah Angkor Wat. Nama ini seringkali secara ambigu dimaksudkan pada seluruh area di taman arkeologi ini, padahal masih banyak atraksi yang lainnya selain Angkor Wat di kompleks sini. Bagaimanapun, Angkor Wat bukan saja telah menjadi ikon utama taman arkeologi di Angkor namun juga simbol nasional Kamboja yang ditampilkan di benderanya.

Akan memakan waktu dan energi terlalu banyak untuk mengunjungi semua tempat yang tersebar di area taman arkeologi yang memiliki luas 400 km persegi ini. Apalagi kami hanya bersepeda. Akibatnya, kami harus menentukan mana tempat yang akan dikunjungi dan mana yang harus dilewatkan. Selain Angkor Wat yang pastinya wajib dikunjungi, kami masih mempunyai dua tempat lagi yang terdaftar dalam rencana perjalanan kami, yaitu Angkor Thom dan Ta Phrohm. Saya akan menunjukkan satu per satu tempat ini nanti. Tetapi sebelumnya, beberapa pembaca mungkin mengira jika kita mungkin dapat menyusup masuk area taman arkeologi tanpa membayar biaya. Saya juga sempat berpikir untuk menghindari membeli tiket masuk harian seharga $20, tetapi sayangnya jawabannya adalah TIDAK. Setiap kali kami masuk ke satu situs, ada pemeriksaan tiket oleh petugas. Jadi saudara-saudaraku (yang sepemikiran denganku), lupakanlah untuk berlaku curang di sini.

KUALASINGA [Part 2]: KL Old and New

Petronas Twin Towers
You might misunderstand when reading the title. But this KL Old and New Tour does not mean to take place in a new year. Instead today we were to bring the tour attendants to the old and also the new part of the city. Unlike many other big cities in Southeast Asia, Kuala Lumpur is not a seaside city. But somehow it eventually became the capital and so many old buildings from the colonial era can be seen here. The best ones are in Dataran Merdeka. The area is a must-see thing when visiting KL. Not only admiring the building architectures but also learning history is what we can do, because here in Dataran Merdeka Malaysia declared its independence. Some big events today are still hold on this open field. As a tourist spot, this area is made up very clean and neat - very different from Chinatown area, only few meters away-. The thing I don't like from Dataran Merdeka - because it's an open field - is the sun heat. However, some places around are available to avoid this:

1. KL City Gallery.
This place is my favorite. Here we can get free maps, tour information, and stuff people may get in a tourist information center. It also has a gallery and a convenient shop. The best thing here is what so called 'The Spectacular City Model Show' where we can see a miniature of KL and its future planning of development. No flash allowed when the show is running.

16 Juni 2014

Makassar untuk Pertama Kalinya


Pemandangan sore hari dari Pantai Losari, Makassar
Saya sudah menyukai Makassar bahkan sebelum mengunjunginya. Alasannya karena akses dari bandara ke pusat tempat wisata menggunakan transportasi umum cukup baik. Cukup dengan menumpang Bus DAMRI  seharga Rp 25.000 per orang, kita sudah sampai di dekat Bundaran RRI. Dari situ tempat-tempat penting seperti Jalan Jampea (Chinatown), Fort Rotterdam, dan Lapangan Karebosi dapat ditempuh dengan berjalan kaki saja.

Namun perjalanan kami hari ini tidak dimulai dari bandara tempat bus ini berangkat. Malam sebelumnya kami menginap di Jalan Poros Maros-Makassar. Dari sana memang ada banyak angkot (yang di sini disebut pete-pete) yang lewat. Namun jika naik pete-pete harus turun di Terminal Daya lalu pindah kendaraan. Sedangkan untuk masalah ongkos, supir pete-pete terkadang menggetok harga jika tahu kita adalah pendatang. Jadi kami putuskan saja untuk kembali ke bandara dengan menggunakan layanan antar-jemput gratis milik hotel lalu naik Bus DAMRI ke pusat kota Makassar.

15 Juni 2014

Perjalanan Dimulai di Maros

Setelah menyelesaikan kontrak kerja 3 tahun kami di Ambon sebagai guru, kami menghadiahkan diri kami dengan jalan-jalan selama setengah bulan. Perjalanan kami bermula di Maros, Sulawesi Selatan. Kami sudah pernah ke Pulau Sulawesi beberapa kali sebelumnya, tapi hanya untuk transit di Bandara Sultan Hasanuddin. Secara bandara tersebut adalah hub yang menghubungkan penerbangan-penerbangan dari dan ke kota-kota di timur Indonesia, termasuk Ambon.

Sebuah desa terpencil area pegunungan karst di Maros
Jika berbicara soal Maros, tujuan wisata yang paling mainstream adalah Taman Nasional Bantimurung. Tapi waktu kami browsing tempat-tempat di Maros, ada tempat lain yang mencuri hati kami. Tempat itu menyajikan pemandangan alam yang sangat luar biasa seperti yang dilihat pada gambar di atas.

Setibanya di bandara, kami langsung menelpon hotel tempat kami menginap, menagih layanan jemputan gratisnya. Hotel tersebut terletak hanya 10 menit dari bandara, tepatnya di jalan utama penghubung kota Maros dan Makassar. Beristirahat sejenak di kamar hotel, kami lantas keluar memulai eksplorasi kami. Salah satu staff hotel menawarkan jasa penyewaan motor seharga Rp 250.000 untuk setengah hari. Bagi kami itu kemahalan. Jadi kami putuskan saja untuk naik angkot yang di sini disebut pete-pete.

14 Juni 2014

Sekejap di Bantimurung

Sepanjang jalan pinggir kali yang kami tempuh basah akibat hujan yang barusan turun. Kepalaku melongok keluar jendela, masuk ke tengah-tengah udara luar yang menyegarkan. Dari jauh kulihat seekor kupu-kupu raksaksa. "Kita sampai!" teriakku spontan. Ya, setelah perjalanan yang cukup lama menggunakan pete-pete (angkot) dari pusat kota Maros, akhirnya kami sampai di Taman Nasional Bantimurung, tempat wisata yang paling terkenal dan telah menjadi ikon di Maros.

Setelah mengunjungi Desa Berua siang hari yang cukup panas tadi, kami kembali ke kota Maros dan memanjakan diri kami untuk menikmati es krim dan minuman dingin. Eh, tau-taunya langit langsung berubah mendung. Kami pun bergegas menuju ke pertigaan tempat pete-pete jurusan Bantimurung. Sempat salah masuk pertigaan, kami harus naik becak untuk ke pertigaan yang benar.

1 April 2014

SAWAI, Surga yang Bersembunyi di Seram Utara

Inilah surga yang bersembunyi itu
Inilah lanjutan cerita perjalanan kami ketika liburan akhir pekan panjang dalam bulan-bulan terakhir keberadaan kami di tanah Maluku. Eksplorasi kami kali ini adalah yang terjauh yang pernah kami jalani. Pada posting sebelumnya, telah diceritakan bahwa untuk sampai ke titik terjauh tersebut, kami harus singgah terlebih dahulu di sebuah kota mungil bernama Masohi.

CARA KE SANA
Ada dua cara untuk pergi ke Masohi dari Ambon yang bisa Anda lihat di sini. Dari Masohi, kami cukup naik mobil Sawai yang berpangkalan di seberang Masohi Plaza. Mobil Sawai ini seperti taxi Maluku pada umumnya, yaitu mobil pribadi yang biasanya adalah Toyota Avanza. Namun kendaraan ini sebenarnya bukanlah taxi yang diprivatisasi untuk rombongan sendiri. Pada saat itu kebetulan saja memang hanya kami berdua yang menumpang ke Sawai. Satu orang penumpang dikenai biaya Rp 100,000 saja. Biaya ini jauh lebih murah dibandingkan sengaja menyewa mobil untuk pergi ke Sawai.

31 Maret 2014

MASOHI, Kota yang Sunyi


Inilah cerita perjalanan kami ketika liburan akhir pekan panjang dalam bulan-bulan terakhir kami berada di tanah Maluku. Eksplorasi kami kali ini adalah yang terjauh yang pernah kami jalani. Namun sebelum sampai ke titik terjauh tersebut, kami singgah di sebuah kota mungil bernama Masohi. Jika Anda juga hendak pergi ke kota ini, kami harap posting ini dapat menjadi informasi yang berguna.

CARA KE SANA
Ada dua cara untuk pergi ke Masohi dari Ambon. Cara yang lebih menghemat waktu adalah dengan menggunakan kapal cepat dari Tulehu ke Amahai. Dari Amahai ke Masohi dapat ditempuh dengan ojek selama 10 hingga 15 menit. Cara yang lebih lambat namun lebih murah (inilah cara yang kami tempuh) adalah menyeberang lewat Hunimua ke Waipirit menggunakan kapal feri kemudian dilanjutkan dengan perjalanan darat selama 3 jam menuju ke timur.

5 Januari 2014

Kehangatan Alami Pancuran Pitu

Pancuran Pitu
Permandian Air Panas Pancuran Pitu adalah atraksi paling keren yang ada di area Baturraden. 'Pitu' dalam bahasa Jawa berarti tujuh. Nama ini mengacu pada tujuh sumber mata air panas alami yang mengalir di tempat ini sehingga membuat bebatuan di sekitarnya berubah warna menjadi kekuningan. Itulah yang membuat pemandangan di area ini menjadi unik. Namun, tempat ini dikunjungi bukan sekedar untuk memanjakan mata. Air panas yang mengandung berbagai macam mineral itu dipercaya orang mampu menyembuhkan maupun mencegah rematik dan berbagai macam penyakit kulit.

Untuk menuju ke tempat ini, pengunjung sebenarnya dapat naik kendaraan pribadi maupun sewaan melewati Bumi Perkemahan Baturraden dan turun tepat di depan loket masuk Pancuran Pitu. Namun, agar perjalanan kami ke tempat ini lebih menantang, kami memilih jalan lainnya, yaitu melalui jalan setapak dan menanjak sejauh 2,5 km dari lokawisata Baturraden. Untuk membaca kunjungan kami khusus ke lokawisata Baturraden, silahkan klik di sini.

Melewati hutan pinus yang cukup lebat, tak ada perasaan takut tersesat yang terbesit di pikiran kami karena petunjuk jalannya jelas. Waktu itu kondisi relatif sepi. Rasanya hanya kami berdua yang berada di jalur itu. Sampai di tengah perjalanan kami bertemu seorang pria tua yang sedang memanggul beberapa buah potong bambu sambil berjalan bertelanjang kaki. Ia membalas sapaan kami dengan ramah. Kami juga menemukan dua buah tenda didirikan di tanah yang bidang. Nampaknya berkemah di tengah hutan seperti ini cukup seru dan boleh dicoba kapan-kapan.

Peta Dunia TRAVELdonk

Peta Dunia TRAVELdonk