17 Juni 2014

KUALASINGA [Bag.1]: Berjalan Kaki di KL


Dalam tur kali ini, kami memimpin sebanyak tujuh orang peserta. Beberapa di antaranya adalah sesama guru yang mengajar di Ambon. Perjalanan ini akan menjadi perpisahan dengan mereka karena kami tidak perlu kembali lagi ke Ambon setelah menyelesaikan kontrak kerja 3 tahun. Tur ini dinamakan KUALASINGA, sebuah gabungan kata dari 'Kuala Lumpur' dan 'Singapura', berdasarkan destinasi tur. Salah satu ciri khas dari tur-tur kami adalah membawa peserta naik transportasi umum setempat. Oleh karena itu, tentunya peserta diharuskan berjalan kaki juga. Kali ini kami akan mencoba berjalan kaki lebih banyak ke tempat-tempat yang memang hanya bisa dijangkau dengan cara demikian. Tiba di KL pada larut malam dan kurang tidur karena sempat menunggu kedatangan satu peserta yang tidak berangkat bersama-sama kami dari Ambon, kami sempat ragu apakah fisik kami akan kuat untuk berjalan kaki. Namun nyatanya, meski melelahkan, berjalan kaki memang membuat badan menjadi bugar.
Di KL macetnya cukup rapi tapi tetap saja menyebalkan.
Terkadang berjalan kaki memang merupakan pilihan terbaik 

Jenis berjalan kaki yang paling melelahkan adalah jalan menanjak seperti hiking maupun stair climbing. Tempat wisata di sekitar KL yang paling cocok dengan aktivitas ini adalah Batu Caves, sebuah kompleks kuil orang India Tamil yang memiliki 272 buah anak tangga menuju kuil utamanya. Naik sekian banyak anak tangga terdengar melelahkan, tapi itu tidak seberapa apabila dibandingkan dengan yang dilakukan orang saat festival Thaipusam, yaitu mulai berjalan kaki dari Kuil Sri Mahamariamman di Chinatown KL hingga ke Batu Caves. Beratnya perjalanan itu bukan hanya pada jaraknya yang 13 km lebih, tapi juga karena di sepanjang perjalanan mereka sambil menari-nari dan menyiksa diri sendiri dengan menusuk-nusuk badan menggunakan benda tajam serta membawa beban sebagai bentuk ritual. Hal itu juga tetap dilakukan saat naik tangga ke kuil utama.Kami memulai tur dari start point yang sama dengan festival Thaipusam. yaitu Kuil Sri Mahamariamman. Di sini kami memperkenalkan peserta pada kebudayaan India Tamil. Lalu, kami pun menuju Batu Caves tapi tidak dengan berjalan kaki apalagi menyiksa diri. Cukup dengan naik kereta komuter selama kurang lebih 30 menit, kami pun tiba. Sementara para peserta naik ke kuil utama, kami berdua yang sebelumnya sudah pernah dua kali ke sana hanya menunggu di bawah guna menghemat energi sebab acara jalan-jalan masih panjang.  

Lima orang peserta perempuan berfoto di depan Kuil Sri Mahamariamman
Bersantai sementara menunggu yang lain selesai dari kuil utama


Di dalam kereta komuter menuju Batu Caves
Kembali dari Batu Caves, kami tidak turun di stasiun yang sama dengan keberangkatan. Kami turun di Stasiun Bank Negara dan dari situ kami berjalan hingga Masjid Jamek melalui Jalan TAR & Jalan Melayu. Kedua jalan yang disebutkan barusan merupakan spot yang bagus untuk merasakan atmosfer otentik kebudayaan Melayu dan India Muslim. Meskipun ada banyak pengurup wang/money changer, area ini lebih populer di kalangan orang lokal daripada turis asing. Seperti pada tur yang lalu, kami tidak bisa masuk ke Masjid Jamek karena pakaian kami tidak memenuhi kriteria. Lagipula memang kami hanya ingin menikmati keindahan bangunan berarsitektur Mughal ini dari luar. Salah satu spot foto terbaik ternyata adalah dari dalam stasiun LRT.   

Masjid Jamek

Dari Masjid Jamek, kami naik LRT ke Hang Tuah kemudian berjalan kaki beberapa blok hingga sampai di KWC Fashion Mall, sebuah pusat perbelanjaan modern yang sedang gencar dipromosikan sebagai mal baru yang menjual pakaian dengan harga termurah. Tapi nyatanya tidaklah demikian. Kami pun cukup kecewa, seharusnya tidak perlu buang-buang waktu datang kemari. Tapi ya setidaknya di dalam sana kami bisa ngadem. Kami pun akhirnya berhasil move on dari situ untuk lanjut jalan-jalan lagi.

KWC Fashion Mall
Selanjutnya kami naik monorail ke Bukit Nanas dimana acara hiking kami pun dimulai. Jalur yang kami tempuh ini sebenarnya merupakan rute alternatif menuju KL Tower, yaitu melalui Bukit Nanas Forest Park yang merupakan hutan di tengah kota metropolitan. 

"Aduh, please jangan tangga lagi," keluh seorang peserta. Maklum saja, tadi pagi ia dan yang lainnya  sudah naik turun 272 anak tangga di Batu Caves. Apalagi di sini situasinya lebih buruk daripada di Batu Caves karena ujungnya tidak terlihat jadi kami tidak tahu kapan sampainya. Tapi jika dijalani pelan-pelan sebenarnya tidak sulit karena jalurnya sudah tersedia dan tangga-tangganya pun tidak terlalu terjal. Ada banyak juga spot-spot menarik dan tempat beristirahat seperti gazebo dimana kami berleha-leha sejenak sebelum kembali melanjutkan pendakian. Saat KL Tower sudah kelihatan dekat, kami kira pendakian telah berakhir. Namun, kemudian perjalanan panjang kami dihentikan oleh gerbang besi yang digembok! 
Para wanita pendaki

Rehat sejenak


Melalui canopy walk

Masih bisa senyum sambil merenggangkan kaki
(sesaat sebelum tahu kalau gerbangnya terkunci)
Gerbang yang terkunci
Di sisi lain gerbang ada petugas yang memberitahu kami kalau memang gerbangnya selalu dikunci. Ia pun tidak kelihatan berniat untuk membantu kami kali ini saja untuk membuka kuncinya, tidak pula memberikan petunjuk jalan lain menuju menara. Konyol juga rasanya jika kami yang sudah mendaki sejauh ini harus turun lagi. Jadi, kami mencoba mencari jalan lain sendiri. Untungnya, terdapat banyak peta area ini di beberapa titik jalur pendakian yang terbukti bermanfaat sebagai petunjuk jalan. Akhirnya, kami pun berhasil sampai di KL Tower melalui jalur hutan, tentunya dengan memanjat lebih banyak anak tangga. Lelah setelah mendaki, tidak ada yang berniat naik hingga ke observation deck KL Tower. Harga tiketnya pun sangat turistik, bahkan sudah lebih mahal lagi dari saat pertama kali kami berdua datang ke sini. Jadi, apakah sia-sia setelah kami sudah jauh-jauh mendaki seperti ini? Tentu saja tidak. Kadang-kadang perjalanan lebih berharga daripada destinasinya. Lagipula masih ada beberapa hal untuk dinikmati secara gratis di lantai dasar menara.

Memutar lewat jalur hutan dirasa sebagai pilihan yang lebih baik
dibanding harus kembali turun lewat jalan yang sama dengan tadi naik
Jembatan menuju lantai dasar KL Tower. Akhirnya sampai juga!

KL Tower dari dekat

Di lantai dasar ada replika rumah-rumah tradisional Malaysia

KL Tower dibangun di atas bukit.
Jadi dari lantai dasarnya saja kita sudah bisa menikmati pemandangan kota KL. 
Pengelola KL Tower menyediakan shuttle gratis ke gerbang luar sehingga kami tidak perlu jalan turun bukit. Balik ke guesthouse kami juga naik kendaraan gratis lainnya, yaitu bus GoKL. Sambil menunggu bus datang, kami berdua memperhatikan peta rute layanan yang ternyata sudah diperluas dari sebelumnya. Ada dua jalur baru yang melewati tempat-tempat penting lainnya seperti KL Sentral, Chow Kit, dan Titiwangsa. Bus pun datang membawa kembali ke Chinatown yang sudah mulai gelap. Kami semua pun makan malam bersama sambil melepas lelah. Suasana malam Chinatown membuat makan malam ini lebih dari sekedar romantic dinner biasa.
Gerbang KL Tower yang terletak di bawah bukit

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Peta Dunia TRAVELdonk

Peta Dunia TRAVELdonk