22 Juli 2014

SINGAKU [Bag.3]: Percuma Berpindah Tempat di KL


GoKL Bus
Berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya memang pasti dilakukan saat traveling, makanya kita sebut aktivitas ini jalan-jalan. Untuk itu, dibutuhkan transportasi yang paling sesuai. Pengguna kendaraan umum seperti kami sangat senang ketika tahu di Kuala Lumpur ada yang namanya bas percuma GoKL. Percuma di sini artinya gratis loh ya, bukan sia-sia. Apalagi ketika layanan bus gratis ini diperluas dari semula hanya dua jalur (ungu dan hijau) menjadi empat jalur (ditambah jalur merah dan jalur biru).

Dikisahkan pada hari sebelumnya kami berpisah menjadi dua kelompok saat hendak ke KL dari Johor Bahru. Satu grup naik kereta api sedangkan grup lainnya naik bus. Kami berdua yang ada di grup terakhir tiba di KL terlebih dahulu karena di Malaysia kereta api banyak berhenti sementara akses jalan darat sudah sangat baik dengan ketersambungan jalan tol di sepanjang negeri itu. Jalanan juga tidak terlalu ramai saat malam hari. Namun, kelompok yang naik kereta mendapatkan tidur yang lebih nyenyak karena ada tempat tidur di dalam gerbongnya. Selain itu, mereka juga langsung sampai ke KL Sentral. Kalau naik bus dari luar kota ke KL kini kebanyakan hanya sampai di Terminal Bersepadu Selatan saja yang terletak sedikit di luar kota. Dari TBS ada banyak pilihan transportasi ke KL Sentral. Saat itu kami salah memilih naik kereta komuter, bukannya LRT. Waktu tunggunya cukup lama karena jadwal keberangkatan kereta komuter tidak terlalu banyak terutama di jam-jam non sibuk.

Setelah sampai di KL Sentral, kedua kelompok pun kembali bersatu. Setelah sarapan, kami langsung cabut ke Chow Kit memanfaatkan rute baru bus GoKL. Bus di jalur merah ini kosong melompong. Nampaknya masih belum banyak orang yang tahu soal adanya layanan bus di rute yang baru ini. Pastinya butuh waktu sosialisasi sampai masyarakat luas tahu dan menggunakan layanan seperti halnya pada rute Pasar Seni-Bukit Bintang atau KLCC-Bukit Bintang yang sudah lebih dulu beroperasi. 
Perbedaan mencolok antara keterisian penumpang bus GoKL
di jalur merah (atas) dan jalur ungu (bawah)

Bus GoKL jalur ungu saat jam sibuk

Jalur merah GoKL menyajikan pemandangan yang cukup menarik. Sepanjang jalan menuju Chow Kit dari KL Sentral, bus melewati bangunan-bangunan tua seperti Ibu Pejabat KTM Berhad, Textile Museum, Bangunan Sultan Abdul Samad, dan bangunan lainnya di Dataran Merdeka. Bus berhenti di halte Medan Mara yang merupakan pemberhentian akhir. Jadi di situ kami harus pindah bus dengan jurusan yang sama untuk sampai ke Chow Kit. Bus-bus dengan rute baru lainnya yaitu jalur biru juga mangkal di sana.

Singkat cerita, kami pun tiba di guesthouse tempat kami menginap kali ini. Sebelumnya kami tidak pernah berpikir akan ke Chow Kit apalagi tinggal di daerah itu. Pasalnya, akses tranportasi dari/ke Chow Kit terbilang kurang dengan monorail sebagai satu-satunya andalan. Monorail KL secara umum tidak begitu diminati karena dianggap kurang efisien dalam hal jangkauan, kapasitas maupun ongkos. Untunglah saat ini jalur merah bus GoKL sudah beroperasi. Chow Kit pun kini dapat dicapai dengan percuma.

Guesthouse kali ini terlihat sudah cukup berumur tapi setidaknya memiliki lift. Kami datang cukup pagi sebelum jam cek-in. Jadi, kami hanya beristirahat di area bersama dimana kami bertemu dengan banyak penghuni guesthouse yang berasal dari Timur Tengah. Mereka sangat bersahabat. Salah satu dari mereka bahkan memberikan kami roti Arab.

Setelah diperbolehkan cek-in, tiap orang langsung melakukan urusannya sendiri seperti mandi dan rebahan. Sedangkan kami berdua jalan-jalan ke Pasar Chow Kit yang berada tepat di luar guesthouse. Dengan cepat kami menyadari bahwa area ini memiliki komunitas orang Indonesia yang besar. Bahkan sebelum mendengar orang-orang berbicara bahasa Indonesia, kami sudah cukup yakin dengan melihat banyak penjual bakso di pasar. Bahkan, koran-koran asal Indonesia banyak dijual di sini.

Tukang buah di Pasar Chow Kit
Setelah acara bebas selesai, kami semua berkumpul lalu bersama-sama kembali ke salah satu bangunan tua yang kami lalui pagi ini ketika naik bus GoKL, yaitu Ibu Pejabat KTM Berhad. Nama itu terdengar lucu di telinga kami karena dalam bahasa Indonesia artinya menjadi berbeda. Dalam bahasa Malaysia, ibu artinya pusat sedangkan pejabat berarti kantor, jadi maksudnya gedung itu adalah kantor pusat PT Kereta Tanah Melayu. Meski masih serumpun, bahasa Malaysia sering sekali dapat disalahartikan oleh orang Indonesia. Contohnya lagi seperti judul artikel ini yang bisa diartikan sia-sia saja berpindah tempat di KL, padahal kata 'percuma' di sana masuknya gratis. Inilah yang kadang membuat oarang Indonesia lebih suka berbicara bahasa Inggris kepada orang Malaysia dibandingkan menggunakan bahasa Melayu, bukan soal sok-sokoan tapi bisa repot kan kalau nantinya jadi salah paham.

Di hadapan Ibu Pejabat KTM Berhad

Di dalam gedung KL Old Railway Station
Setelah puas befoto-foto ria, kami menyeberangi jalan untuk ke gedung stasiun tua KL dan lanjut berjalan hingga tiba di sisi lainnya yang terhubung dengan hub transportasi Pasar Seni. Dari sana kami naik bus GoKL jalur ungu ke Bukit Bintang. 

Sampai di Bukit Bintang, para peserta kembali berfoto ria. Peserta tur kali ini memang cukup narsis. Setelah selesai, kami jalan melalui Bukit Bintang Skybridge hingga ke KLCC Park. Kami selalu membawa peserta tur melewati jalur ini untuk menunjukkan betapa baiknya konektivitas di pusat KL untuk pejalan kaki. Sama seperti pada tur sebelumnya, di KLCC Park kami menunggu hingga gelap dan menonton pertunjukan air menari berwarna-warni. Bedanya ini hari ini adalah akhir pekan sehingga taman lebih ramai dikunjungi orang, termasuk oleh para pekerja asing. Lalu, peserta ibu-ibu yang membawa anaknya meminta untuk diantarkan ke Petrosains yang berada di Mal Suria KLCC sehingga kami sempat kembali terpisah menjadi dua kelompok. Petrosains merupakan wisata edukasi yang memang cocok untuk anak-anak.
At Bukit Bintang Area

Right Under the Petronas Twin Towers!
 Petrosains yang berada di lantai atas Mal Suria KLCC.
Pertunjukan air menari KLCC saat gelap
Meninggalkan KLCC menggunakan bus GoKL jalur hijau, kami tak lupa untuk mampir makan di Jalan Alor. Mungkin banyak tempat di KL yang makanannya lebih enak daripada di sini, tapi Jalan Alor memberikan suasana malam fotogenik yang sulit tertandingi. Setelah makan malam, kami pun pulang ke guesthouse. Seharusnya kami bisa naik bus GoKL jalur biru lalu kemudian pindah ke jalur merah untuk kembali ke Chow Kit. Namun, para peserta malah kami ajak naik monorail agar merasakan pengalaman baru. Naik bus GoKL memang percuma (gratis) sedangkan naik monorail tidak percuma (sia-sia).
Makan malam bersama di Jalan Alor

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Peta Dunia TRAVELdonk

Peta Dunia TRAVELdonk