29 Juni 2019

Matsumoto Bukan Cuma Buat Foto

Matsumoto Castle

Memulai pagi hari dengan berjalan kaki ke Stasiun Nagano, kami sangat bersemangat untuk berangkat ke Matsumoto. Kami bahkan sudah membuat janji ketemuan makan siang dengan seorang host Couchsurfing di sana. Namun, rencana ini hampir berantakan akibat kebakaran yang dialami oleh rangkaian kereta yang akan kami tumpangi dari Nagano ke Matsumoto. Jadwal kedatangan dan keberangkatan kereta lainnya di Stasiun Nagano pun ikut terdampak. Terpaksa kami harus naik kereta lain yang waktu tempuhnya lebih lama karena lebih banyak berhenti di tengah jalan. Situasi di dalam gerbong kereta pun padat karena ada banyak penumpang yang senasib dengan kami. Hal ini membuat mood menjadi jelek. Untungnya, pemandangan sepanjang perjalanan tidak mengecewakan. Terutama, ketika kereta berhenti di Obasute, sebuah stasiun kecil di Kota Chikuma, kami dapat melihat dengan jelas pemandangan kota, bukit, dan lembah yang luar biasa menyegarkan mata.

Setelah sekitar satu setengah jam, kami pun tiba di Matsumoto. Begitu keluar dari stasiun, kami langsung disambut oleh bunga warna-warni yang tertata rapi. Ini baru permulaan kami menyukai kota yang sering disandingkan dengan Nagano ini. Tak seperti Nagano, Matsumoto tidak dapat diakses langsung oleh shinkansen. Namun, kota ini memiliki bandara yang tidak dimiliki oleh Nagano. Apabila Nagano merupakan monzen-machi alias kota kuil, Matsumoto merupakan Jōka-machi alias kota kastil. Maka, keberadaan Matsumoto tak dapat dipisahkan dari Matsumoto Castle, tempat yang pertama akan kami tuju begitu sampai di kota ini.
Stasiun Obasute yang memiliki pemandangan luar biasa
 
Bunga warni-warni yang menghiasi area sekitar stasiun

Meski ada banyak kastil lainnya di Jepang, Matsumoto Castle termasuk di antara tiga yang paling top karena keutuhan bangunan aslinya meskipun telah mengalami beberapa kali renovasi. Situs yang sudah ditetapkan oleh negara sebagai Pusaka Nasional (国宝: kokuhō) ini dapat dijangkau dengan berjalan kaki kurang dari 1,5 km saja dari Stasiun Matsumoto dan kurang dari 1 km jika berjalan dari Stasiun Kita-Matsumoto. 

Kastil ini selesai dibangun tahun 1594, namun jauh sebelum itu lokasinya sudah digunakan untuk sebuah benteng pertahanan. Meskipun dibuat untuk tujuan pertahanan perang, namun bagi kami Matsumoto Castle kini memberikan rasa damai dan tenteram di hati, walau hanya dengan sekedar melihat-lihatnya dari luar. Banyak pengunjung yang saking terpesonanya dengan tempat ini, sibuk berfoto-foto tanpa benar-benar menikmati pemandangan kastil dengan temboknya yang berwarna hitam beserta parit yang mengelilingi bangunan dihiasi dengan bebek angsa yang mondar-mandir. Untungnya saat itu kami sudah sadar dan tak mau jadi budak kamera. 

Kebetulan di sana tersedia tempat duduk yang cukup banyak sehingga setelah mengambil gambar secukupnya kami bisa duduk-duduk santai sambil melamun ditemani oleh bangunan bersejarah yang cantik dan menawan. Jika tidak ingin melihat interior bangunan maupun mengunjungi museum senjata di lantai dua kastil, pengunjung tak perlu membayar satu sen pun. Tempat ini jelas bukan hanya cocok sebagai spot berfoto dengan latar belakang kastil ala Jepang, namun juga pas sebagai tempat nongkrong yang menyehatkan jiwa. 

Mencoba bersatu dengan alam di halaman Matsumoto Castle

Duduk sambil memandangi penampakan depan kastil

Saat sedang asyik menikmati keindahan Matsumoto Castle, kami dihubungi oleh Yoko-san, seorang host Couchsurfing yang mengundang kami makan siang di rumahnya. Kami menuggunya di depan sebuah minimarket di dekat kastil. Yoko-san datang membawa mobil mungil bersama dua anaknya yang masih kecil. Kami pun dibawa ke rumahnya yang bergaya modern ala Jepang. Di sana kami menghabiskan waktu dengan mengobrol banyak hal sambil menikmati hidangan daging wagyu yang dimasak oleh Yoko-san sendiri.

Rumah modern ala Jepang didominasi oleh kayu, minimalis namun eksotis.

Makan siang bersama Yoko-san dan kedua anaknya

Setelah makan siang, kami diantar kembali ke Stasiun Matsumoto oleh Yoko-san dan berpisah dengannya. Tak jauh dari stasiun, ada tempat peminjaman sepeda gratis bagi pemegang paspor asing, tepatnya di belakang Super Hotel Matsumoto Ekimae. Sepeda yang tersisa tinggal dua, jadi pas sekali untuk kami berdua. Memang rezeki anak sholeh. 

Dengan mengandarai sepeda, kini kami menuju kembali ke arah Matsumoto Castle melalui lewat jalan yang sedikit berbeda, yakni dengan menyusuri Sungai Metoba. Kami mencoba untuk melihat-lihat sekitar dengan lebih seksama karena sebelumnya saat berjalan kaki kami dalam keadaan terburu-buru untuk segera tiba di tempat ketemuan dengan Yoko-san. Salah satu bangunan yang paling menonjol yang kami lihat di sepanjang perjalanan adalah Matsumoto Timepiece Museum yang memiliki jam raksasa di bagian luar gedungnya. Kemudian, kami memarkir sepeda kami di dekat patung kodok penanda jalan masuk ke Nawate-dori alias “Frog Street”.

Nawate-dori adalah jalan sepanjang 200 meter sejajar dengan Sungai Metoba berisikan tukang jualan yang telah eksis sejak tahun 1500-an. Disebut juga sebagai Frog Street karena di jalan ini dulunya ada banyak kodok yang berkeliaran. Setelah banjir pada tahun 1959, kodok-kodok tersebut mengungsi ke tempat lain dan tidak pernah kembali lagi ke sini. Kini hanya ada patung-patung kodok yang menghiasi Frog Street dan juga kuil kodok mini yang disebut Kaeru Daimyoujin. Di ujung Nawate-dori terdapat Yohashira Shrine, sebuah kuil dari zaman Meiji yang diperuntukkan bagi empat dewa-dewi Shinto. 

Bersepeda mengelilingi kota Matsumoto

Di ujung jalan Nawate 'Frog Street'
Nampak sedang ada persiapan untuk sebuah perayaan di kuil Yohashira

Beralih ke sebelah utara Matsumoto Castle, kami menemukan sebuah kuil lain, yaitu Matsumoto Shrine. Di depan kuil ada sebuah sumur mata air yang airnya bisa diminum. Bahkan, terpampang kertas sertifikasi dari badan terkait menyatakan bahwa air ini aman untuk dikonsumsi. Tempat ini bukan satu-satunya mata air di tengah kota Matsumoto. Ada beberapa titik lainnya dimana penduduk setempat biasa mengambil air minum alami secara cuma-cuma, termasuk di Frog Street tadi. Jadi, sangat mungkin bagi pelancong untuk berkeliling Matsumoto tanpa mengeluarkan biaya untuk air minum.

Minum dari sumber mata air alami

Lebih ke utara lagi, kami menemukan Former Kaichi School (旧開智学校) yang merupakan salah satu bangunan sekolah bergaya barat yang paling awal di Jepang. Kini kegiatan belajar mengajar sudah tidak dilakukan di bangunan yang selesai dibangun tahun 1876 ini lagi karena sudah ada bangunan baru yang terletak persis di depannya. Gedung ini kini dimanfaatkan sebagai tempat menyimpan koleksi dokumen-dokumen pendidikan dari zaman dahulu. Di dekat situ, ada bangunan menarik lainnya yaitu Old Catholic Priest's House (旧司祭館) yang dibangun tahun 1889 oleh pastor asal Perancis.

Kemudian kami bergegas ke Takahashi Family Residence (高橋家住宅) yang berjarak beberapa ratus meter dari situ. Tempat ini merupakan salah satu dari sedikit rumah samurai yang tersisa di Matsumoto. Kini rumah tradisional tersebut dijadikan museum untuk mempelajari kehidupan para samurai di masa lalu. Sayangnya, kami tiba di sana saat hari sudah terlalu sore. Kami turun dari sepeda tepat saat penjaga museum menutup gerbang tanda berakhirnya jam kunjungan di hari itu.  

Former Kaichi School

Di depan Takahashi Family Residence, kecewa karena terlambat datang

Dari utara kami beralih ke area tenggara Matsumoto Castle, tepatnya ke arah timur Stasiun Matsumoto. Jika harus berjalan kaki tentunya cukup jauh. Untunglah kami bersepeda, sehingga jarak 2 km yang kami tempuh dari Takahashi Family Residence ke destinasi berikutnya tidak terlalu terasa. Kami hanya cukup berhati-hati di jalan karena kini kami banyak lewat jalan raya.

Tempat pertama di area ini yang kami datangi adalah Matsumoto City Museum of Art yang menampilkan karya para seniman Jepang khususnya Yayoi Kusama yang memang lahir di kota ini. Yayoi, yang baru saja menggelar pameran seni di Jakarta tahun lalu, terkenal dengan karya-karyanya yang bercorak polkadot. Meski kami tidak masuk ke dalam museum ini karena sudah lewat jam operasional, kami masih dapat menikmat karya dari sang maestro yang terpajang di halaman depan museum. 

Karya Yayoi Kusama berjudul "The Visionary Flowers" (2002)
terpampang di halaman depan Matsumoto City Museum of Art
 

Lanjut menyusuri jalan raya melewati mal AEON, kami pun tiba di bangunan sekolah tua bergaya barat lainnya yang telah dimuseumkan, Old Matsumoto High School (旧 松本高等学校 本館). Meski sudah berusia 100 tahun, bangunan dari kayu ini masih nampak gagah dan terawat. Beberapa bagian dapat dimasuki secara gratis kecuali museumnya yang berbayar. Suasana dalam gedung yang gelap membuat bulu kuduk kami merinding. Namun, kesan angker ini segera hilang ketika kami membayangkan diri kami sedang berada di dalam anime Jepang dengan tema sekolah. 

Tepat di belakang gedung sekolah tua, terdapat sebuah taman yang indah namanya Agatanomori-koen. Kami menghabiskan waktu duduk-duduk sambil menikmati pemandangan alam berupa danau, bunga, maupun binatang yang ada di sana. Taman ini betul-betul cocok menjadi tempat terakhir yang kami tuju di Matsumoto. Andai saja kami bisa tiba lebih di awal di Matsumoto, kami bisa menghabiskan lebih banyak waktu di tiap-tiap tempat yang kami kunjungi. Tapi setidaknya kini kami telah melihat gambaran besar kota ini dengan cerita-ceritanya yang menarik. Matsumoto memang bukan cuma buat foto-foto.

Naik sepeda ke sekolah tua 

Di dalam salah satu ruang kelas Old Matsumoto High School
Nampak belakang Old Matsumoto High School
Nongkrong di samping danau di Agatanomori-koen sebelum matahari terbenam



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Peta Dunia TRAVELdonk

Peta Dunia TRAVELdonk