26 Juni 2019

Sehari Transit di Manila

Plaza de Roma, Manila
Tujuan perjalanan kami kali ini yang sebenarnya adalah ke Jepang. Namun, berhubung pesawat yang kami tumpangi adalah maskapai penerbangan nasionalnya Filipina; Philippines Airlines (PAL) maka kami mesti transit terlebih dahulu di Manila. Kami sengaja memilih waktu transit yang paling lama yaitu sekitar 12 jam lebih supaya kami punya cukup waktu untuk melihat-lihat negara bekas jajahan Spanyol ini. Setibanya di sana, kami pun keluar bandara tanpa perlu repot-repot membawa barang-barang karena itu semua sudah diatur maskapai agar diteruskan ke penerbangan lanjutan nanti. Jadi meskipun berstatus transit, kami cukup merasa nyaman ketika berkeliling kota dengan mengesampingkan faktor-faktor lain yang mengurangi kenyamanan seperti yang nanti akan dibahas. Setelah mencuri-curi koneksi wifi yang tidak terlalu baik di area kedatangan, kami berhasil memesan GrabCar untuk langsung meluncur ke jantung kota di Luneta. Untungnya Filipina adalah salah satu negara ASEAN yang tingkat kefasihan bahasa Inggris masyarakatnya paling baik, jadi tidak ada masalah komunikasi yang berarti. Perjalanan kami yang awalnya lancar, akhirnya terkena macet juga. Ya namanya juga ibukota. Pengemudi Grab kami seorang pria paruh baya yang dengan senang hati memperkenalkan negeri ini kepada kami. Dia mengaku memiliki besan orang Manado. Memang ada kedekatan kultural yang nampang di antara orang Manado dan Filipina. Selain dari penjelasan bapak itu, kami pun berusaha mempelajari negeri yang baru pertama kali kami kunjungi ini melalui pengamatan sendiri. Di sepanjang jalan terlihat banyak kasino yang rupanya dilegalkan di sini beserta bus-bus berisi turis Tiongkok yang menuju ke sana. Hal lain yang menarik adalah keberadaan Alfamart di salah satu pertokoan yang kami lintasi! Setelah beberapa lama menembus kemacetan, akhirnya kami pun diturunkan tepat di depan Rizal Monument, meskipun di titik itu sebenarnya dilarang untuk menaik-turunkan penumpang.

Rizal Monument
Jose Rizal adalah pahlawan nasional Filipina yang menginspirasi merdekanya negara ini dari cengkraman penjajah Spanyol. Luneta Park, taman tempat kami berdiri saat ini kerap disebut dengan nama Rizal Park juga karena di situ ada monumen penghormatan bagi beliau yang dijaga oleh satu prajurit yang berdiri tegap. Kisah selengkapnya mengenai tokoh ini dapat dipelajari di The Martyrdom of Dr Jose P Rizal yang merupakan bagian dari taman itu juga. Sayangnya, untuk masuk ke sana tidaklah gratis. Selain itu, beberapa area lain di taman ini yang menarik seperti Chinese Garden dan Japanese Garden juga membutuhkan tiket masuk.

Rupanya Rizal Park cukup luas juga. Kami berjalan menyusurinya hingga menyeberangi jalan raya dan kami masih berada di area taman itu. Sekarang kami menemukan dua tempat wisata yang bebas dimasuki orang lokal maupun turis asing yaitu National Museum of Natural History dan National Museum of Anthropology. Kami masuk ke tempat yang pertama. Di dalamnya adalah segala hal yang berkaitan dengan kekayaan flora dan fauna Filipina, namun sayangnya seluruh display di sini merupakan replika buatan tangan manusia.

National Museum of Anthropology
Keluar dari museum, kami berjalan menuju area kota tua Intramuros yang cukup deket dari situ. Secara harafiah, Intramuros berarti area di dalam dinding. Memang area kota tua sebesar 0,67 km persegi ini dikelilingi oleh dinding batu. Sebelum betul-betul masuk ke area di dalam dinding kota tua Intramuros, kami menyempatkan diri berbelok ke Puerta Real Gardens terlebih dahulu. Manuver ini diperlukan untuk menghindari tukang becak yang sangat agresif menawarkan jasanya pada kami. Masuk ke dalam Intramuros, kami hanya cukup berjalan lurus untuk merasakan nuansa kental era kolonial Spanyol serta mendapatkan atraksi-atraksi utamanya. Tak beberapa lama berjalan kaki, kami menemukan San Agustin Church, gereja tertua di Filipina dengan gaya arsitektur kuno yang selamat dari penghancuran besar-besaran selama Perang Dunia II. Sayangnya, lagi-lagi kami diganggu oleh tukang becak wisata yang sangat agresif menawarkan jasanya. Maka lanjutlah kami berjalan lurus hingga menemukan Manila Cathedral yang terletak di depan Plaza de Roma. Dari situ, sekali lagi kami berjalan lurus hingga sampai ke gerbang masuk Fort Santiago yang merupakan benteng tua buatan penjajah Spanyol pada tahun 1593. Karena sudah kepanasan, kelelahan serta kelaparan kami tidak menyempatkan diri masuk ke sana., lagipula masuknya juga mesti bayar.
Salah satu sudut kota tua Intramuros
San Agustin Church

The Minor Basilica and Metropolitan Cathedral of the Immaculate Conception alias Manila Cathedral
Untuk mengisi perut, awalnya kami berencana makan di restoran Jollibee dekat dari Plaza de Roma, namun batal karena sedang terlalu banyak pembeli. Kami meninggalkan area kota tua Intramuros dengan berjalan cukup jauh ke stasiun LRT Central Terminal. Sudah sejak tahun 1984, ibukota Filipina dilengkapi dengan moda transportasi ini. Meskipun tidak sebagus di negara-negara lain, tapi kereta ini lumayan juga untuk menghindari kemacetan. Kami turun di Doroteo Jose dan berjalan sedikit ke gedung JT Centrale karena menurut informasi yang kami dapatkan di situ ada tempat makan sepuasnya dengan harga terjangkau. Tapi ternyata tempat itu sedang tutup! Ujung-ujungnya kami pun makan di restoran Jollibee yang terletak di gedung yang sama. Memang kalau ke Filipina, jangan sekali-kali melewatkan bersantap di restoran cepat saji yang satu ini. 

Jollibee cabang Intramuros.
Sumber: https://www.flickr.com/photos/manilahobo/9162850658/
Kembali naik LRT, kini kami mengambil arah sebaliknya hingga turun di stasiun terakhir Baclaran. Rencananya, dari sana kami hendak naik GrabCar kembali ke bandara. Namun rupanya tidak ada supir Grab yang mau mengambil penumpang di sana karena stasiun terletak di tengah-tengah pasar basah yang susah dijangkau mobil. Jadi, berbekal Google Maps kami nekat berjalan kaki sekitar dua kilometer melewati gang-gang sempit sampai keluar ke jalan raya dan menyusuri jalan hingga sampai di terminal 3 Bandara Ninoy Aquino. Di tengah jalan, kami melihat ada beberapa jeepney yang merupakan angkutan khas Filipina  mondar-mandir tapi karena tanggung kami tetap lanjut berjalan kaki saja.

Sebelumnya, sudah kami saksikan di internet ada banyak pelancong yang mengeluh soal bandara di ibukota Filipina ini, namun baru sekarang kami merasakannya sendiri. Bandara memiliki empat terminal yang tidak terhubung ataupun berada dalam satu kompleks yang sama sehingga membuat persoalan berpindah dari satu terminal ke terminal lainnya menjadi masalah yang cukup rumit. Pesawat kami berangkat dari Terminal 2, jadi dari Terminal 3 tersebut kami harus naik shuttle bus berbayar yang melewati jalan raya untuk umum sehingga kerap kali dilanda macet. Parahnya lagi buat kami, rute shuttle bus tersebut adalah Terminal 3-4-1-2 yang artinya kami diantar paling terakhir. Untunglah kami menyediakan waktu lebih sehingga kami masih punya waktu yang cukup sampai penerbangan kami ke Jepang diberangkatkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Peta Dunia TRAVELdonk

Peta Dunia TRAVELdonk