27 Juni 2019

Mengintip Isi Tokyo Dalam 6 Jam

Godzilla sedang mengintip salah satu sudut kota Tokyo.
Jepang selalu menjadi negara idaman untuk dikunjungi bagi banyak orang-orang yang sejak kecil sudah dicekoki eksostisnya budaya Negeri Matahari Terbit melalui anime, manga, dorama maupun video game-nya. Setiap kali ada tur TRAVELdonk membawa peserta dari tanah air ke Jepang, kami tidak pernah sempat untuk meluangkan waktu berdua jalan-jalan di sana. Kali ini, tepatnya seminggu sebelum tur TRAVELdonk Jepang lainnya dimulai, kami pun akhirnya mendapatkan kesempatan itu.
   

Setelah melalui transit 12 jam di Manila, kami tiba di bandara Haneda pada tengah malam. Di dalam gedung bandara tersedia beberapa kursi panjang maupun tempat duduk berbentuk bundaran yang dapat dimanfaatkan untuk tidur. Di situlah kami bermalam. Di pagi harinya, kami bangun lalu mengisi perut dengan mie instan yang sudah disiapkan dari rumah. Fasilitas air panas yang tersedia di bandara sangat menolong dalam hal ini.

Kemudian kami meluncur ke pusat kota Tokyo dengan kereta yang merupakan transportasi andalan masyarakat Jepang. Ongkos naik kendaraan umum seperti kereta api di Jepang tidaklah murah. Untuk menempuh 2-3 stasiun saja pasti sudah menguras puluhan ribu rupiah. Kereta dari Haneda ke pusat kota di Shinjuku yang kami naiki ini ongkosnya per orang ¥620 atau sekitar 80 ribu rupiah. Ini masih termasuk murah jika dibandingkan ongkos dari bandara lainnya yaitu Narita yang jarak tempuhnya lebih dari 70km. Oleh karena itu, jalan-jalan di Jepang mesti dibekali dengan kecerdikan memilih dan mengkombinasikan kartu perjalanan unlimited. Kartu yang kami pakai saat itu adalah Tokyo Travel 1 Day Pass seharga ¥800 yang bisa dipakai di seluruh rute subway Toei ditambah satu kali perjalanan dari bandara. Jadi kami tidak perlu lagi membayar ongkos kereta dari bandara yang ¥620 per orang itu

26 Juni 2019

Sehari Transit di Manila

Plaza de Roma, Manila
Tujuan perjalanan kami kali ini yang sebenarnya adalah ke Jepang. Namun, berhubung pesawat yang kami tumpangi adalah maskapai penerbangan nasionalnya Filipina; Philippines Airlines (PAL) maka kami mesti transit terlebih dahulu di Manila. Kami sengaja memilih waktu transit yang paling lama yaitu sekitar 12 jam lebih supaya kami punya cukup waktu untuk melihat-lihat negara bekas jajahan Spanyol ini. Setibanya di sana, kami pun keluar bandara tanpa perlu repot-repot membawa barang-barang karena itu semua sudah diatur maskapai agar diteruskan ke penerbangan lanjutan nanti. Jadi meskipun berstatus transit, kami cukup merasa nyaman ketika berkeliling kota dengan mengesampingkan faktor-faktor lain yang mengurangi kenyamanan seperti yang nanti akan dibahas. Setelah mencuri-curi koneksi wifi yang tidak terlalu baik di area kedatangan, kami berhasil memesan GrabCar untuk langsung meluncur ke jantung kota di Luneta. Untungnya Filipina adalah salah satu negara ASEAN yang tingkat kefasihan bahasa Inggris masyarakatnya paling baik, jadi tidak ada masalah komunikasi yang berarti. Perjalanan kami yang awalnya lancar, akhirnya terkena macet juga. Ya namanya juga ibukota. Pengemudi Grab kami seorang pria paruh baya yang dengan senang hati memperkenalkan negeri ini kepada kami. Dia mengaku memiliki besan orang Manado. Memang ada kedekatan kultural yang nampang di antara orang Manado dan Filipina. Selain dari penjelasan bapak itu, kami pun berusaha mempelajari negeri yang baru pertama kali kami kunjungi ini melalui pengamatan sendiri. Di sepanjang jalan terlihat banyak kasino yang rupanya dilegalkan di sini beserta bus-bus berisi turis Tiongkok yang menuju ke sana. Hal lain yang menarik adalah keberadaan Alfamart di salah satu pertokoan yang kami lintasi! Setelah beberapa lama menembus kemacetan, akhirnya kami pun diturunkan tepat di depan Rizal Monument, meskipun di titik itu sebenarnya dilarang untuk menaik-turunkan penumpang.

28 Juni 2016

Mandalay dan Sekitarnya

Pemandangan Mandalay
Menyadari banyak tempat menarik di sekitar Mandalay yang tidak terjangkau oleh sepeda, hari ini kami menyewa sepeda motor dari hotel tempat kami menginap. Pertama-tama kami menuju ke Mandalay Hill alias Bukit Mandalay yang batal kami kunjungi kemarin meskipun kami sudah sempat sangat dekat dengan pintu masuknya. Jalan menanjak ke Bukit Mandalay tidaklah terlalu panjang namun cukup menantang jika Anda menempuhnya menggunakan sepeda tak bermotor. Sebagai alternatif, ada pula 1.729 anak tangga dari kaki bukit yang dapat didaki, bahkan katanya ada eskalator (namun kami tidak menemukannya).

Setibanya di lokasi, kami memarkir sepeda motor sewaan kami dan bergegas menuju pintu masuk utama dimana lagi-lagi kami harus melepas alas kaki kami sebelum menaiki tangga. Bukit Mandalay dianggap sebagai tempat suci karena konon Sang Buddha semasa hidupnya pernah berkunjung ke sini dan bernubuat bahwa akan ada sebuah kota besar yang didirikan di atas kaki bukit tersebut. Ironisnya, di sisi kanan dan kiri tangga banyak ditemui orang berjualan pernak-pernik sehingga tempat ini terkesan komersial. Untuk masuk ke tempat ini pun pengunjung harus membayar 1.000 kyat, tapi entah mengapa tidak ada yang menagih iuran ini kepada kami. Jadi kami tidak bisa banyak protes, apalagi setibanya di atas kami dihadiahi sebuah pemandangan indah kota Mandalay.

Peta Dunia TRAVELdonk

Peta Dunia TRAVELdonk